AgendaIniKritikGue

The New ini.kritik.gue : Sisi.silang


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Dear all,

Sebelumnya, saya pribadi, sebagai pengelola (satu-satunya) ini.kritik.gue, berterima kasih atas kesetiaan dan kesediaannya dari para pembaca ini.kritik.gue sekalian selama 4 tahun ini, dari jaman saya masih SMK hingga kini sudah bekerja. Dari jaman masih menggunakan blog ini, hingga sempat berpindah domain ke inikritikgue.my.id.

Saya menghargai segala kritik dan saran yang telah diberikan, selama 4 tahun terakhir ini. Baik yang nyinyir maupun yang sportif. Baik yang alay maupun yang santun. Semua saya terima dengan sebaik mungkin. Meskipun memang terkadang saya harus mengakui ada beberapa hal yang membuat saya tak berkenan, namun apapun itu, saya tetap menerima dan menganggap bahwa semua itu, secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan support buat saya pribadi dan blog ini.

Mohon maaf jika selama ini ada hal-hal dari saya pribadi dan blog ini yang kurang berkenan dimata pembaca sekalian. Segala kesalahan adalah milik saya pribadi dan kesempurnaan hanya milik Tuhan YME, Allah SWT.

Mohon maaf juga karena selama beberapa bulan terakhir saya tak begitu aktif di dunia tulis menulis soal media massa dan mohon maaf juga karena selama beberapa bulan ini juga saya nampak plin plan dalam urusan konten. Boleh diakui, dalam beberapa waktu ini, selain menghadapi kesibukan yang cukup padat, saya juga mengalami kebosanan yang entah mengapa menghinggapi.

Meskipun persoalan dunia media massa, dari soal program Tanya Ustad Abdul Somad yang tidak jadi tayang di Trans 7 hingga perdebatan sengit antara Remotivi dan Tribunnews.com menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan, namun entah kenapa saya memilih meminggir dari opini terkait hal tersebut di blog saya ini.

Namun, dibalik kebosanan yang ada, saya terpikir untuk membuat sesuatu yang menarik dan Insya Allah menjadi salah satu portofolio terbesar saya buat masa depan saya nanti (eheheh ~ ). Nah, sesuatu ini yang saya akan bahas.

Well, let me introduce the new ini.kritik.gue : Sisi.silang.

Iya, bisa dikatakan Sisi.silang akan melanjutkan perjuangan, baik buat diri saya pribadi, maupun juga untuk hal-hal yang saya tekuni.

Monggo, yang mau tahu Sisi.silang, klik https://sisi-silang.id/.

Kalimat yang sangat utopis, sok-sok motivasi dan penuh dengan retorika yang tak berarti yak, heheh ~

Tapi, inilah yang sedang dan masih saya pelajari kedepannya. Saya mengupayakan konten yang menjadi alternatif, dengan banyak perspektif baru kedepannya yang lebih baik dan lebih punya banyak “sisi”. Hal inilah yang coba saya cerminkan dari nama Sisi.silang dan logonya.

Saya berusaha mempelajari konten dengan lebih baik. Saya berpikir, perlu banyak ruang baru yang lebih bisa dikembangkan daripada sekedar mengkritik. Namun, Sisi.silang tak akan menghilangkan kritik, sebuah napas yang membangun Sisi.silang ini. Tapi, Sisi.silang juga menghadirkan variasi konten yang lebih baik, terutama di dua ranah yang menjadi sajian utama : media dan siber. Oke, mungkin sebagian pembaca sudah paham soal media. Namun, siber?

Iya, sejak 2 tahun terakhir saya bekerja di dunia siber. Bukan. Bukan sebagai buzzer bayaran portal berita atau tokoh politik. Bukan juga sebagai influencer di sosmed (boro-boro jadi influencer, followersnya dikit beud ~). Namun, saya bekerja di ranah yang membuat kamu dan anda bisa internetan, sosmed, ngobrol sehari semalam sama pacar kamu, bikin warnet berbasis voucher, hingga menjadi penghubung untuk banyak korporasi di daerah pedalaman atau remote area untuk sekedar video call Skype dan berkirim email.

Iya, bekerja di ISP.

Saya pikir, dunia siber tidak hanya soal bagaimana kamu menjadi blogger, youtuber, influencer hingga buzzer. Dunia siber ini ghoib, kata senior saya di kantor. Bisa dibayangkan jaringan yang menjadi pantauan saya itu sebenarnya tak pernah nampak dan kelihatan jejaknya (ini baru jaringannya, belum orang-orang dibelakangnya, sama kayak anonimitas yang dijunjung tinggi oleh dunia siber ini wkwk ~). Tapi, yang ghoib beginilah yang justru membuat banyak orang memiliki hidup, penghidupan dan semangat. Meskipun gegara yang ghoib ini jugalah banyak orang rela tubir setengah modar (tubir = ribut) hingga mempengaruhi percaturan politik dan ekonomi negeri ini yang masih digoyang dengan rupiah mencapai Rp 14.000an per 1 dolar Amerika/USD wkwkwk ~

Nah, saatnya membuka tabir dari dunia siber ini. Seperti apa sih. Bagaimana sih.

Sebenarnya sih, rencana saya bukan hanya 2 hal ini yang dikembangkan. Ada beberapa rencana lain kedepannya yang akan coba dikembangkan seiring dengan waktu dan kesempatan yang ada. Salah satunya, mungkin vlog? Nantikan saja ~ Namun, yang jelas so hopefully Sisi.silang ini akan hadir dengan gaya yang berbeda namun punya value yang berkualitas.

Oh ya, kamu dan anda bisa juga menyumbang informasi dan opini untuk Sisi.silang, dengan berkirim email ke submit.tulisan@sisi-silang.id dengan subjek [NARASI] <spasi> judul tulisannya disini. Insya Allah ada honorarium menariklah.

Satu lagi, karena Sisi.silang saat ini masih versi beta, dimana secara tampilan dan fungsi masih memiliki kekurangan, monggo diinfokan jika ada kendala ataupun saran-saran menarik di foundthebug@sisi-silang.id.

Sisanya? Baca sendiri dong di sisi-silang.id.

Jangan lupa follow Twitter @sisisilang dan Instagram @sisisilang.id.

Akhirul kalam, mohon doa restu dari semua pembaca untuk Sisi.silang, semoga bisa terus lebih baik dan berkembang kedepannya (termasuk soal revenue, heheh ~). Tenang saja, rencananya selain iklan, mungkin saya akan upayakan pendapatan dari sumber lain untuk menghidupi Sisi.silang.

Kemudian, untuk pembaca yang masih ingin membaca artikel-artikel saya terdahulu, blog ini masih dibuka terus dan mungkin juga akan berubah fungsi menjadi pure blog pribadi saya. Kadang-kadang akan saya update jika sempat. Sans aja mas bro and sis.

Terima kasih dan terima kasih atas atensi dan dukungannya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Iklan
Standar
AgendaIniKritikGue

New Feel.


Halo pembaca ini.kritik.gue,

Dengan ini kami mengumumkan bahwa akan ada sesuatu yang baru dari kami untuk anda dan kamu semua. Apa coba?

Segera dan simak per tanggal 5 Juni 2018 mendatang disini. Di blog yang sama dengan yang anda dan kamu baca saat ini.

Standar
ANTV, Paradoks dan Televisi, VIVA/Bakrie

Menegur talent yang bersalah.


“Aku minta maaf sama KPI juga, kalau aku salah. Aku cari uang di sini, hidupku dari entertain, kalau ada yang terganggu dengan kata-kata aku aku mohon maaf,”

Ngga usah minta maaf juga si Mpok ke KPI. Meskipun minta maaf adalah bagian dari pernyataan diri pribadi, namun konteksnya kali ini saya rasa tak tepat.

Ya, kita membicarakan soal teguran KPI alias Komisi Penyiaran Indonesia terhadap program Pesbukers ANTV yang menampilkan kata kasar dari si Mpok Eli Sugigi.

Kenapa saya mesti katakan bahwa ngga usah minta maaf ke KPI?

Saat ini, belum ada aturan dimana KPI berhak menegur talent-talent atau pengisi acara di program televisi maupun radio. Sepengetahuan saya, KPI memang baru ancang-ancang untuk membuat aturan dimana mereka berhak langsung menegur talent-talent yang ada, jadi tidak seperti sekarang dimana talent yang bersalah tapi tegurannya in-direct ke program atau stasiun TV yang bersangkutan.

Yang membuat penasaran, sebenarnya efektifkah teguran KPI ke talent-talent secara langsung?

Secara prosedural, jelaslah buat apa KPI menegur secara langsung talent-talent program televisi dan radio? Tugas pokok KPI lama-kelamaan melebar, semakin tidak jelas dan bisa menjadi semacam “polisi moral” jika mereka langsung tegur talent-talent tersebut secara individual. Hal ini jelas saja akan makin menimbulkan ketidaknyamanan buat para talent-talent pengisi acara untuk bisa berkarya. Ujung-ujungnya, anggapan “intelek” bahwa KPI adalah salah satu cerminan menuju rezim otoriter akan semakin bergaung dimana-mana.

Namun jangan salah, anggapan ini kini sudah menjadi angggapan lumrah ketika berbicara soal sensor (yang masih dianggap dilakukan oleh KPI oleh kebanyakan “netizen maha benar atas segala komentarnya”).

Baca juga :

Membebaskan Belahan Dada dari Sensor (?)

Sensor (Lagi), Bruh and Sis

Efektivitasnya jelas diragukan, karena nilai teguran ke talent-talent tersebut bisa saja bias. Mungkin bisa saja tidak bias ketika berkait dengan kata-kata kasar atau tindakan kasar lain yang secara umum mungkin masih disepakati secara norma. Namun, ketika misal, berkait dengan pakaian yang dikenakan dan tindakan-tindakan yang mencerminkan mengarah kepada pengekangan kreativitas, terutama jika berkaitan dengan seni dan budaya, maka teguran akan sangat subyektif.

Tak usah jauh-jauh, larangan KPI soal menampilkan manusia-manusia yang memiliki ekspresi gender yang berlawanan dengan “kodrat”, ini termasuk dalam bias, bagi sebagian pihak. Apalagi kenyataannya dalam berbagai budaya nasional kita, ada beberapa jenis budaya yang mengisyaratkan akan hal tersebut.

Dalam hal ini, jika KPI dipersiapkan untuk menegur para talent-talent secara direct, apakah KPI sudah memiliki kacamata yang pas plus dan minusnya, agar bisa melihat secara jelas apa yang mereka tegur? Ini jelas adalah tantangan KPI, ditengah arus ketidakpercayaan dan kesalahkaprahan yang diletakkan banyak lapisan masyarakat, termasuk “netizen maha benar dengan segala komentarnya”.

Namun, tanpa ada intervensi KPI sendiripun, stasiun TV sebenarnya sudah memiliki mekanisme untuk teguran kepada talent-talent tersebut. Inilah alasannya kenapa hampir setiap program acara televisi yang ada selalu mengadakan briefing dan kenapa harus ada juga rundown dalam produksi program televisi. Agar tentu saja bisa dikontrol tiap hal-hal apa saja yang bisa tayang dan apa saja yang tak bisa. Semua ini disebut sebagai salah satu tipe quality control.

Yang jadi masalah, terkadang ada hal-hal sepanjang jalannya produksi program yang suka tak bisa terkontrol dan sering dianggap sebagai bagian dari proses kreatif produksi yang ada. Hal inilah yang terkadang membuat banyak hal bisa saja terjadi dan menimbulkan teguran KPI, bahkan bisa jadi menimbulkan kecaman masyarakat secara luas, hanya karena hal-hal “sepele” yang dianggap bagian dari proses kreatif tersebut.

Pada akhirnya, lebih baikpun KPI mengurusi bagaimana teguran mereka bisa benar-benar impact terhadap industri penyiaran secara umum dibandingkan tetiba menjadi “polisi moral”. Ini masih jauh lebih penting.

 

Standar
Paradoks Media

Mengapa harus ada sebutan media anti Islam?


Pernah ga sih kesal dengan komen-komen semacam : “media anti Islam”, “media liberal”, “media antek komunis”? Sama dong kita *toss. 

Sampai hari ini, jujur saya masih heran dengan komen-komen yang muncul di sosial media yang tipe-tipenya mirip seperti itu. Entah dengan dasar apa mereka bisa komen semacam ini.  

“Alah, ngapain dipeduliin si, do. Netijen kan maha bener atas semua komennya..” 

Haha, bisa aja ga peduli. Mikir, biarin aja ah. Riak-riaknya juga muncul cuma kalau ada isu-isu yang dianggap menyinggung mereka. Kalau isinya tenang, toh mereka juga ngga bakal muncul. Mereka mungkin cuma baca artikel kalo isinya “menyinggung”. Tapi kalo ngga, boro-boro baca.  

Kenapa saya bilang gitu? Ini karena muncul komen : “wong muncul di explore saya” atau “muncul di promote”.  

*emangnya saya siapa, bisa sotoy gitu* 

Namun, saya tentu merasa bahwa ada hal yang entah kenapa mengganjal banget di pikiran. 

Media massa macam mana sih yang mereka anggap sesuai dan ngga buat mereka komen-komen semacam itu? Kayaknya hampir semua media massa pada umumnya tak pernah ada yang clean dari komen-komen semacam itu. 

Mereka biasa mengatakan bahwa “jadi media berimbang dong”. Semisal, ada berita soal aksi intoleransi yang dialami oleh kalangan minoritas, mereka ingin bahwa ada juga berita soal aksi intoleransi yang dialami oleh alim ulama dan kalangan mereka ini. Oke, mungkin memang niatan ini baik adanya, karena media massa sebenarnya harus mengutamakan keberimbangan dalam pemberitaan.  

Namun, persoalan lain mengemuka.  

Ada beberapa yang mengaku sebagai media massa. Sebagian dari mereka yang menyuarakan komen-komen semacam itu ada yang menshare link-link artikel yang berasal dari media massa tersebut.  

Media-media massa semacam ini lahir dengan memakai narasi “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, dimana mereka menggunakan narasi ini sebagai garis perjuangan mereka, lepas dari segala macam bentuk kapitalisme yang mewarnai sebagian besar media massa kita hari ini. Mereka berusaha melawan ideologi-ideologi yang dianggap “liberal” dan berbahaya, entah buat akidah, entah buat bangsa.  

Diluar persoalan bahwa media massa semacam itu tak ubahnya mirip portal opini, tidak memiliki susunan redaksi yang baik dan tentu saja tak termasuk media yang terverifikasi Dewan Pers, baik administrasi maupun faktual, ada sisi positif dari media massa semacam ini. Positifnya, ada ekspresi yang tercurah dari masyarakat yang tak terekam oleh media massa pada umumnya. Sebuah hal yang baik buat demokrasi. Namun, negatifnya adalah ekspresi yang tercurah ini, jika tak terseleksi dengan baik, sangat rawan akan munculnya hoax-hoax.  

Selain itu, media massa semacam ini juga tak jarang bermain framing, sebuah hal yang dilakukan juga oleh media massa pada umumnya. Bedanya, media massa umumnya mengarah ke mana, yang ini mengarahnya ke hal yang berlawanan. Semisal dalam isu intoleransi, jika media massa umumnya menyorot ke intoleransi yang dialami kaum minoritas, maka media massa semacam ini cenderung ingin mengatakan bahwa “intoleransi juga dilakukan kaum minoritas, dengan menguasai narasi yang ada di media massa untuk menjelek-jelekan kaum mayoritas dan menjatuhkan Islam” sambil juga mengatakan bahwa kaum alim ulama yang mereka hormati juga mengalami situasi yang sama, “namun tak pernah dikupas oleh media liberal”.   

Jadilah adu-adu framing mana yang paling banyak mewarnai populi hari ini, dan akhirnya mempengaruhi opini masyarakat terhadap suatu isu. 

Kalau ada yang mengatakan “media jangan bermain framing” tapi sering membaca media massa setipe itu yang juga (tak mereka sadari) sedang bermain framing , maka simpan saja argumenmu.

Sama saja. Ngga ada yang beda. Semua sedang main-main. 

Terus, kamu dan anda, mau baca media yang mana dong kalo sama-sama main framing gini? Kan katanya anti sama media yang framing.

Jawabannya sama membingungkannya dengan pertanyaan media massa mana yang sesuai dengan maunya mereka.  

Standar
Obral Obrol Internet

Semua soal pemblokiran Tumblr.


Pemblokiran yang dilakukan pemerintah lagi-lagi menuai perdebatan.

Setelah sekitar 2 tahun yang lalu Tumblr hampir diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada tahun ini akhirnya Tumblr resmi diblokir atas instruksi Kominfo. Pemblokiran ini disebabkan karena tidak adanya komunikasi balasan dari Tumblr terkait dengan temuan konten pornografi yang ada di Tumblr. Selain itu, Tumblr sendiri dianggap tak memiliki fitur pelaporan konten melanggar, terutama pornografi.

tumblr

Dalam situasi ini, banyak narasi yang muncul di sosial media yang membela Tumblr dengan sejumlah alasan, dari Tumblr yang memiliki konten yang lebih banyak positifnya, para pengguna Tumblr yang selama ini tidak menemukan konten pornografi (dan sebagian dari mereka akhirnya justru malah terpancing buat mencari konten tersebut di Tumblr), sosial media yang lain banyak memunculkan konten-konten pornografi lainnya yang lebih parah (salah satu yang sering disebut : Twitter), hingga narasi-narasi “intelek” semacam pemblokiran konten ala Kominfo yang tidak efektif menangkal pornografi ataupun pemblokiran konten ala Kominfo adalah pemblokiran yang bias.

Apapun narasinya, semua rata-rata menyalahkan pemerintah, terutama Kominfo.

Memang benar adanya. Kominfo sesungguhnya seringkali kurang prudent ketika menyangkut platform yang besar. Mereka mungkin bisa saja memblokir konten blogspot ataupun konten-konten sejenis blogspot yang bisa digunakan untuk konten bokep alias pornografi dan konten penipuan berhadiah. Namun, ketika yang diblokir menyangkut platform besar, mereka seringkali main blokir tanpa mempertimbangkan adanya pro kontra yang terjadi diantara pengguna platform tersebut.

Bukan hanya sekali ini terjadi, beberapa kasus lainnya seperti Telegram dan Bigo pun juga demikian perlakuan yang dibuat Kominfo. Meskipun akhirnya kedua platform ini mengikuti ketentuan yang (dianggap) berlaku hingga blokir pun dibuka, bahkan pada kasus Bigo sampai dibuatlah kantor perwakilan untuk tim sensor konten Bigo di Jakarta.

Oke, mungkin langkah prudent Kominfo adalah dengan berkomunikasi dengan platform tersebut untuk membersihkan konten-konten yang melanggar. Namun, persoalannya justru adalah jangka waktu komunikasi dengan platform yang besar ini yang dirasa terlalu pendek.

Kenapa?

Kebetulan ini adalah pengalaman saya sendiri. Beberapa kali akun sosial media saya mendapatkan followers dari akun yang nampaknya biasa, namun semakin banyak akun semacam ini memfollow saya, justru saya mulai merasa terganggu dan ini jelas mengacaukan statistik followers saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mereport akun-akun tersebut ke platform sosial media yang dimaksud. Seringkali laporan tersebut ditanggapi hanya dalam waktu beberapa hari, meskipun kadang juga laporan tersebut ditanggapi bahkan hingga berbulan-bulan lamanya.

Ini sosial media lho. Bagaimana dengan platform blog seperti Tumblr atau yang lainnya?

Saya sih belum pernah mencoba melaporkan blog yang melanggar aturan ke masing-masing platform, namun setahu saya semua platform blog terkemuka memiliki fitur pelaporan dan informasi kebijakan kontennya sendiri, seperti Tumblr, Blogspot alias Blogger dan WordPress. Pelaporan semacam ini sebenarnya dan seharusnya sudah sesuai dengan keinginan Kominfo.

Entah dengan alasan apa Kominfo jadi saklek begitu.

Namun, apakah ini adalah kesalahan Kominfo semata?

Menurut informasi dari akun Twitter resmi Kominfo, mereka menyebut salah satu alasan adanya pemblokiran ini adalah (seperti biasa) pelaporan dari masyarakat. Jelas kita tak tahu lapisan masyarakat mana yang melaporkan hal ini dan terang-terangan membuat kontroversi luas di masyarakat, terutama bagi pengguna dan pembaca blog Tumblr.

Namun, jika asumsi dan teori ini benar adanya, maka asumsi kurangnya pemahaman teknologi yang masih mewarnai pengguna internet Indonesia yang menurut data terakhir yang dilansir APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2017 berjumlah 143,2 juta penduduk masih menjadi benar adanya.

Padahal, pemahaman atas teknologi yang benar, termasuk juga mengenal fitur-fitur kecil seperti fitur report yang rata-rata sudah disediakan banyak platform media sosial, blog ataupun platform komunitas lainnya, adalah kunci untuk meminimalisir kasus-kasus semacam ini.

Dalam tulisan ini, saya tentu saja tak bermaksud mengatakan bahwa semua pengguna teknologi dan internet di Indonesia kurang paham akan hal-hal printilan semacam fitur report ini. Banyak yang sudah menyadari soal hal-hal ini, namun tentu saja persoalan yang terjadi masih banyak : membangun awareness banyak lapisan masyarakat terhadap hal-hal printilan tersebut dan tentu saja soal kendala bahasa, dimana kebanyakan fitur report yang disediakan masih menggunakan bahasa Inggris yang tak banyak dipahami masyarakat Indonesia.

Saya juga tak sedang mengatakan bahwa dengan memprotes pemblokiran ini, saya juga setuju akan konten-konten negatif. Yang jadi persoalan adalah tentang teknik dan mekanisme yang diberlakukan pemerintah. Sambil tentu saja membangun awareness masyarakat untuk lebih menyadari dan menggunakan fitur-fitur printilan dalam teknologi yang digunakannya sebagai salah satu cara untuk menangkis konten negatif tanpa perlu menurunkan kuasa dan energi dari pemerintah secara berlebihan.

Oke, perlu diakui adanya inisiatif masyarakat untuk terus melaporkan konten negatif dengan berbagai cara ke Kominfo perlu diapresiasi dengan baik. Namun, tentu saja pemerintah harus punya energi yang cukup buat melakukan seleksi, apalagi jika menyangkut platform yang memiliki jumlah pengguna yang banyak.

Standar
Sosok dan Media

Mereka yang “Ramai” Soal Televisi


Kepopuleran televisi (sementara) memang tiada tanding. Bahkan, meskipun sosial media dan Youtube menjamur.

Beberapa waktu yang lalu, ditengah kesenggangan waktu yang ada, saya mengikuti “kopdar” alias kopi darat (alias ketemuan) dengan beberapa teman-teman yang sebelumnya saya kenal karena sosial media. Teman-teman ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada yang masih sekolah, ada yang kuliah dan ada juga yang sudah bekerja.

Perkenalan dengan perantara sosial media ini bukan tanpa ada wadah. Saya bergabung dengan sebuah grup Facebook yang lebih dikenal sebagai davenirvana1 World. Saya dan mereka adalah bagian dari grup ini.

Bagi pembaca yang membaca e-book saya “IniKritikGue dan Kotak Imaji”, mungkin sudah pernah mendengar nama davenirvana1 ini. Namun, bagi yang belum, saya perkenalkan siapa dan apa ini davenirvana1.

Davenirvana1 ini adalah nama blog, yang kira-kira kayak jaman dulu saya pakai nama rinaldo92aldo Blog sebelum ketemu nama IniKritikGue sekarang ini. Nama empunya blog ini, adalah Dave Nirvana. Sama dengan nama blognya. Mas Dave ini bekerja di dua medium berbeda di industri media, radio dan televisi di Malang, Jawa Timur. Blog ini punya segmen yang sama dengan IniKritikGue : membahas pertelevisian, meski blognya beliau ini hadir lebih awal dari saya, yaitu dari tahun 2011.

davenirvana1 world

Karena ramainya blog ini dengan antusiasme yang banyak, akhirnya brand davenirvana1 ini berkembang menjadi sebuah grup Facebook dengan nama davenirvana1 World. Saya bergabung disini pertama kali sekitar tahun 2013, meski kemudian saya sempat keluar karena berganti akun Facebook dan masuk kembali hingga hari ini.

Mengenai kopdar, beberapa kali anggota-anggota grup ini sudah sering melaksanakannya, meskipun ada kopdar yang hanya dilakukan dalam jumlah yang sedikit, minimal 2 orang. Kopdar ini tidak ditentukan harus berkumpul dimana, dalam artian jika ada kopdar “lokal” (semisal ada si A kebetulan berkunjung ke kotanya si B yang sesama anggota grup), maka dipersilahkan membawa “bendera” davenirvana1 World.

Namun, kopdar yang saya ceritakan diawal ini adalah kopdar grup pertama saya. Sebelumnya, sudah ada tawaran ke saya untuk ikut kopdar, namun saya berhalangan hadir karena waktu yang tidak memungkinkan. Salah satu kopdar yang cukup “meriah” di grup adalah ketika ada Indonesia Broadcasting Expo yang diselenggarakan di Jakarta beberapa tahun lalu.

Saat kopdar yang saya ikuti ini terjadi, ada 10 orang yang berkumpul. Selain saya, ada mas Rifqi dan mas Adhitya yang baru ikut kopdar. Sisanya, sudah cukup sering ketemuan.

Diskusi yang terjadi didalam grup umumnya berkenaan soal televisi, meski terkadang ada juga media lain yang dibahas . Pembahasannya macam-macam, mulai dari soal desain grafis dan panggung ulang tahun stasiun TV, hal-hal unik di televisi, program televisi era jadul hingga soal kritikan tajam. Sampai tulisan ini dibuat, sudah ada lebih dari 100 anggota yang bergabung.

….

Era new media saat ini, memang tak bisa menggeser sepenuhnya popularitas televisi (meski harus diakui yang apatis dan anti dengan televisi juga berimbang dengan popularitas medium yang satu ini).

New media yang membahas soal televisi setidaknya bisa diklasifikasikan menjadi dua : akun yang jadi promosi program televisi (kemudian melebar ke diskusi soal televisi) dan forum/komunitas diskusi. Contoh yang pertama adalah akun-akun yang bermunculan di Facebook, Twitter dan Instagram, seperti @dunia_tv dan @sinetron_indonesia. Sementara, contoh yang kedua adalah davenirvana1 World dan Dunia TV di Facebook serta Lautan Indonesia (LI) (ini belum termasuk dengan forum lain yang membuat diskusi/thread soal televisi seperti Skyscrapercity).

duniatv

Saya kebetulan pernah bergabung dan aktif di Dunia TV dan LI, meskipun dengan satu dan lain alasan saya tak lagi aktif di keduanya. Bahkan, di grup Dunia TV, saya telah lama keluar dari grup ini.

Yang unik, salah satu grup diskusi yang saya sebut, yaitu Lautan Indonesia, tadinya adalah forum yang beraffiliasi dengan Indosiar. Namun, kini Lautan Indonesia sudah berdiri independen dan tidak terkait dengan Indosiar lagi. Forum ini membahas banyak hal seputar televisi (semua stasiun TV tentu, meski fokus utama tentu saja grup televisi MNC, Emtek dan Bakrie/VIVA), sinetron, drama India, drama Korea hingga drama Mandarin, dan juga berbagai topik-topik umum lainnya.

Keunikan forum LI lainnya adalah, forum inilah yang jadi sumber data rating TV yang bermunculan di beberapa akun Twitter, Facebook dan Instagram yang membahas soal program televisi (nama akunnya sudah saya sebut tadi).

lautanindonesia

Dengan semakin semaraknya diskusi yang ada soal televisi di new media alias internet, maka ini seharusnya jadi kesempatan buat stasiun TV untuk lebih dekat dan memahami preferensi yang diinginkan pemirsanya terhadap stasiun TV bersangkutan.

Secara kebetulan, dalam grup davenirvana1 World, ada beberapa orang yang ada di industri pertelevisian hari ini yang bergabung. Salah satunya, ada ibu Limi alias ibu Maria Goretti Limi yang kini berkantor di Kompas TV. Beliau ini dulu pernah jadi direktur di sejumlah stasiun TV dan media massa lain serta direktur utama RTV (kalau pernah baca artikel saya soal RTV di tahun 2014 lalu, pasti pernah baca nama beliau ini).

Namun, agak disayangkan hingga hari ini adalah langkanya orang-orang pertelevisian yang mau membuka diri terhadap komunitas/grup terkait televisi, yang menjadikan salah satu faktor mengapa suara-suara pemirsa agak sulit terdengar dan “menghentak” orang-orang dalam industri jika ada program mereka bermasalah (kecuali kalau viral, wkwk).

Salah satu hal yang disorot dalam kopdar davenirvana1 World di Jakarta yang saya ikuti ini adalah soal fanatisme buta fans-fans stasiun TV.

Ternyata bukan hanya soal bola, agama dan politik saja yang fanatis. Bahkan, sampai selera program televisi pun, fanatismenya minta ampun. Rasanya hanya diskusi soal porno saja yang adem ayem dan seirama, eh. Forum diskusi soal televisi yang dibuka lebar di new media bukannya tidak ada dampak negatifnya. Justru, membuka ruang yang lebar akan adu fanatisme.

Bisa dibayangkan kalau dalam grup diskusi, ada fans sinetron A sekaligus aktor B berdebat dengan fans sinetron B dengan aktor A, berdebat mana jalan cerita yang paling beres dan nyambung dan akting aktor mana yang paling cihuy. Atau, fans stasiun TV C debat dengan fans stasiun TV D, berdebat mana yang paling jago soal strategi programmingnya dan soal rating-share yang naik turun. Debat-debat semacam ini bisa dikatakan hampir tak memiliki feedback apapun kepada stasiun TV atau program TV yang disuka.

Selain heboh akan perdebatan, ada saja pihak-pihak yang menyatakan fanatismenya dengan cara yang cukup lebay. Seperti, menggunakan desain grafis program stasiun TV lain untuk “memberikan saran” kepada program stasiun TV yang disuka. Bisa dibayangkan hak cipta yang telah dilanggar oleh orang ini.

Bahkan, saking fanatisnya, mereka sampai menyebarkan informasi hoax yang terkait dengan satu stasiun TV tertentu. Seperti yang pernah heboh adalah kabar pengalihan lisensi Nickelodeon di Indonesia dari GTV ke Indosiar-SCTV. Buktinya, sampai hari ini Nickelodeon tidak dibeli lisensinya oleh Indosiar dan SCTV, dan mereka berdua tetap dengan segmennya masing-masing sebagai televisi dangdut dan televisi sinetron. Kabar hoax ini bukan hanya beredar di grup diskusi, bahkan Wikipedia pun divandalisme (dikacaukan/”dirusak” isinya) oleh orang-orang ini.

duniatvinstagram

Bisa dibayangkan kesalahan ini memanjang. Semisal contoh kasusnya adalah ketika seorang akademisi Ross Tapsell dan portal berita Tirto.id mengutipnya, dalam hal Elshinta yang dianggap masuk grup Emtek/Keluarga Sariaatmadja, padahal jelas-jelas Elshinta bukan termasuk grup ini.

Situasi-situasi semacam inilah yang mengganggu kondusifitas grup diskusi. Pada beberapa grup, memang tidak ada peraturan spesifik soal ini. Bahkan, situasi semacam ini seperti nampak disengaja untuk dibiarkan. Padahal, fanatisme yang seperti ini menghalangi adanya feedback membangun untuk stasiun TV bersangkutan, yang bisa saja memanfaatkan komunitas/grup diskusi ini sebagai bahan amatan kecil-kecilan sebelum mengeksekusi suatu strategi tertentu.

Tentu selayaknya fans, wajar kalau mereka menggemari stasiun TV tertentu. Namun, selayaknya fans-fans di topik lain, dari K-Pop sampai politik, para fans ini semestinya memang harus belajar membuka diri terhadap pendapat yang berbeda. Mereka tak bisa sepenuhnya fanatik, apalagi sampai membuat hoax atau melanggar hukum. Yang sedang-sedang saja.

Tapi, orang-orang semacam ini pasti ada dan selalu ada. Semua karena anonimitas yang dijunjung internet.

Grup diskusi soal televisi memang tak sesemarak grup diskusi soal politik, teknologi, gaming atau soal-soal lain. Namun, adanya grup diskusi soal televisi, sekali lagi membuktikan adanya kekuatan yang masih ada di televisi ditengah kuatnya pengaruh new media hari ini.

Standar
Sosial Masyarakat

Kelana Episode 10 : (Kembali) Soal “Kapan Nikah” dan Laki-Laki


“Kapan nikah?”

Ya, pertanyaan paling “menyebalkan” abad ini versi para warganet (terbukti dari banyaknya artikel yang rilis soal hal ini) muncul juga di komentar foto saya di Instagram. Padahal, pertama saya laki-laki dan yang komen juga laki-laki, kedua komentar ini muncul di foto diri saya dan captionnya juga tak mengarah ke arah sana, apalagi berbicara soal percintaan.

(((Memang sih, tahun lalu saya cukup sering mengeluarkan “prosa” soal percintaan di Instagram sebagai caption saya, namun ngga ada yang saya rasa mengarah ke soal pernikahan))). Bahkan, ada satu caption saya yang agak menyindir soal niat “adu-aduan” dibalik pertanyaan ini.

Suatu ketika, hati ini akan bertaut dengan pilihanku. Ya, pilihan yang semoga alam semesta dan alam ghaib (kata Tukul Arwana) merestuinya. Pilihanku ini sebenarnya sederhana. Tapi, pestanya yang tak sederhana. Kadang, hanya perlu sedikit sentuhan agar tetap terlihat sederhana, sesederhana aku dan kamu bersatu. Meski, aku tahu hal yang tak sederhana adalah pencitraan dan gengsi mereka-mereka yang sering akui sebagai kaum borjuis dan perlente. Kadang, kita akan berkhayal ini dan itu dalam hubungan kita. Hal yang kemudian sebagian tak terjadi di hidup kita, karena satu dan lain hal. Namun, bisalah kita terus berkhayal, kan? Aku sebenarnya tak menuntut macam-macam. Aku juga tahu kau juga demikian. Namun, kita hidup dalam dunia kapitalis yang kadang-kadang bikin kita pusing seribu keliling. Kebahagiaan kita hanya ditentukan oleh kapital, prestasi mendapat anak secepat-cepatnya dibandingkan saudara atau teman kita, atau… Ah, kau kira aku ini sok idealis? Tidak juga. Kau tahulah, aku hanyalah proletar sejati yang berusaha jadi khalifah buat aku dan keluarga kita disini. Namun, apa yang jadi kebahagiaan kita, bisakah kita tentukan sendiri? Memuaskan orang-orang tak akan pernah habis. Mereka hanyalah pihak yang tak tahu apa yang kita rasa. Mereka sibuk buat standar. Seakan standar adalah target. Seakan target sama dengan penghargaan. Duh. #sastra #untaiankata

A post shared by @ rinaldoaldo92 on

//www.instagram.com/embed.js

In fact, ada teman-teman seangkatan saya di sekolah saya dulu ada yang sudah melangkah menuju pernikahan. Umur mereka kira-kira hampir sama dengan saya (tahun ini saya masuk 2 dekade alias 20 tahun). Yang saya ketahui, ada 1 perempuan dan 2 laki-laki yang sudah menikah dengan pasangannya masing-masing. Jujur, saya sendiri memang tak dekat dengan mereka ini, namun mendengar kabar ini, agak membuat saya terkejut. Apalagi, mendengar fakta bahwa ada yang sudah menginginkan jauh-jauh hari menikah setelah lulus SMK.

Hm?

Ya, tentu disini saya sebenarnya tak berniat buat “menggugat” pilihan hidup mereka, termasuk untuk menikah itu sendiri. Semua kembali kepada individu masing-masing.

Tapi, kalau boleh jujur (entah mungkin juga pergaulan saya kurang besar), saya jarang menemukan pertanyaan “kapan nikah” buat lelaki terdengar.

Baca lebih lanjut

Standar
Konten dan Program TV, Paradoks dan Televisi, penghantar, Trans 7, Transmedia

Kasus “Misteri Rumah Tjong A Fie” dan Apa yang Mesti Disorot


VIRALKAN!

Screenshot 20180205 045340

Pesan bernada tegas ini muncul dalam grup chat Line saya. Wih. Ini apaan yang disuruh viral?

Ternyata, ada screenshot dari Instastories seseorang yang dimasukkan kedalam status Line. Isinya, kesal karena sebuah program TV melecehkan sejarah dari seorang tokoh keturunan Tionghoa yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Nama tokohnya : Tjong A Fie. Jadi, program TV ini menganggap rumah peninggalan beliau (Tjong A Fie Mansion) sebagai rumah “berhantu” dan dianggap dalam proses produksinya tak berizin dari keluarga besar.

Setelah ditelusuri, screenshot ini berasal dari seseorang dengan nama akun Instagram mas @riccocheza.

Screenshot 20180205 043343

Dalam Instastories berserial (hingga tulisan ini dibuat masih dipajang di Instagram yang bersangkutan), dia yang mengaku sebagai bagian dari keluarga besar beliau ini merasa sangat tersinggung karena hal tersebut. Saking tersinggung, ia sampai salah memention akun stasiun TV yang dipermasalahkan. Kesalahan ini muncul, karena terpeleset dengan kesamaan nama. Padahal dalam screenshotnya sudah jelas stasiun TV mana yang bermasalah.

Program TV yang dimaksud adalah program FTV Kisah Nyata di Trans 7. Sementara yang dimention adalah Trans TV. Belakangan, ia mengkoreksi hal tersebut, meski kenyataannya para warganet yang ikut emosi terhadap hal tersebut masih menyebut program ini di Trans TV.

Screenshot 20180205 043352

Pada grup chat Line tempat saya “ikutan”, diskusi cenderung mengarah kepada branding kedua stasiun TV satu grup ini yang nampak “tak menjelaskan differensiasi/perbedaan diantara keduanya”, sehingga orang cenderung mengatakan bahwa semua program Trans 7 adalah programnya Trans TV, bahkan saat-saat kalut bin emosi seperti kasus ini. WEDEW ~

Pada saat tulisan ini dibuat, sudah ada klarifikasi dari pihak rumah produksi pembuat FTV ini, hingga dilakukan kunjungan ke keluarga besar Tjong A Fie dan disepakati bahwa akan ada “judul FTV” yang akan mengklarifikasi jalan cerita dari tokoh dan pengusaha lokal tersebut.

Dalam tulisan ini, kira-kira saya mau menyoroti dua hal.

Tuntutan

Dalam kolom komentar, banyak warganet – termasuk teman-teman mas @riccocheza – yang menuntut agar kasus ini bisa dibawa ke ranah hukum. Hanya sebagian kecil yang menyeret ini ke KPI dengan tuntutan agar dicabut izin siarnya dari Trans 7 ini sendiri.

Saya kemudian mencoba buat nimbrung didalam kolom komentar dan memberikan beberapa komentar saya. Salah satu komentar saya rupanya membuat beberapa orang menganggap saya meremehkan kasus ini. Komentar saya ini sempat saya kutip di artikel saya yang ini (buat yang sudah baca tulisannya, kini ngerti kan yang saya maksud : “Ceritanya, ada sebuah kasus soal pertelevisian yang baru-baru ini viral dan membuat saya ikut mengomentarinya”).

Intinya, saya berharap agar teman-teman yang memprotes dan marah ini jangan cuma marah-marah dan mengadukannya sampai ke pihak berwajib dan KPI hanya kalau viral semacam kasus ini, tapi diam dan tak bergeming melihat program televisi lain yang buruk secara kreativitas dan variasi. Saya menganggap case ini sebagai titik balik agar masyarakat sadar dan mampu menjadi pemirsa cerdas.

Screenshot 20180205 043440

Nah, mereka menyoroti pada frasa yang saya beri tebal. Mereka menganggap saya meremehkan kasusnya. Padahal, saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau dari paragraf tersebut, saya sebenarnya sedang mengajak orang-orang ini agar jangan terlalu emosi pada satu kasus di televisi, tapi kemudian diam jika ada kasus lainnya di televisi yang kini kebanyakan sama parahnya dengan kasus ini. Ini karena berdasar pengalaman saya, banyak orang yang tetiba mengkritik televisi ini dan itu, namun hanya heboh saat viral semata.

Habis viral? Ya udah diam. Balik lagi ke kesibukan masing-masing. Ke kasus-kasus viral lainnya.

Kalau begini, stasiun TV akan dan tetap masih meremehkan kekuatan penonton.

(page 1/3)

Saya sudah mengklarifikasi dan tentu saja meminta maaf kalau memang hal ini dirasa tidak tepat, meski menurut saya mereka cenderung “memotong” maknanya (meski saya akui juga salah disisi saya, memang momen dan cara counter saya tidak tepat). Setelah permintaan maaf, ada satu warganet yang masih menyoroti juga, meski kemudian ditengahi oleh empunya kolom komentar alias yang punya akun. (((Terima kasih mas @riccocheza, btw))).

Saya mengatakan bahwa : silahkan saja warganet atau keluarga besar beliau ini melakukan aksi lebih lanjut terkait hal ini. Saya sama sekali tak melarang (dan dari kalimat yang ditebalkan tersebut menurut saya juga tak ada concern ke arah melarang). Ini sah. Saya tak ada masalah soal ini. Namun, karena kasus yang sudah-sudah, saya tak ingin kasusnya jadi seakan tidak ada hikmahnya buat semua pihak, terutama masyarakat. Sehingga akan muncul kasus berulang dan berulang

Hmm. Oke, mereka sedang emosi dan saya memahami hal itu.

Tapi, yang satu yang ingin disorot disini adalah soal tuntutan mereka untuk mencabut izin siar oleh KPI.

Berdasarkan Peraturan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) KPI tahun 2012, sanksi yang diatur adalah :

  • teguran tertulis;
  • penghentian sementara mata acara yang bermasalah setelah melalui tahap tertentu;
  • pembatasan durasi dan waktu siaran;
  • denda administratif;
  • pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu;
  • tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran; atau
  • pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran.

Sebenarnya, secara logis, tentu saja kalau kita menuntut agar langsung main ke poin f dan g, ini tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Kalau bermain di poin f dan g, itu baru terjadi kalau pelanggaran yang ada sudah berat dan tentu saja sudah tak bisa ditolerir lagi. Istilahnya, sudah terakumulasi alias sudah banyak.

Tentu kita mafhum kalau semua ada step by step dan tak bisa langsung jebret begitu aja.

Namun, citra yang sudah-sudah mengatakan bahwa KPI cenderung masih bermain hingga poin a-b. Bahkan, menurut Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP) seperti dikutip dari tempo.co, “KPI banyak memberikan pembinaan, peringatan, dan imbauan, tiga bentuk yang tidak termasuk sanksi administratif sesuai UU Penyiaran dan P3 & SPS,” . Untuk beberapa pelanggaran berulang terhadap program televisi yang sama, bahkan sanksi administratif diatas tak dijalankan dengan benar.

Jadi, memang untuk menuju ke titik f dan g, sayangnya untuk televisi lokal, masih belum berlaku tuh. Yang pernah sampai ke titik ini adalah stasiun TV asing yang tayang di pay TV, TV5 Monde Asie.

(page 2/3)

Riset dan Izin

Yang unik, dalam surat pernyataan yang disampaikan Produser MAX Pictures (rumah produksi yang membuat FTV ini), Ody Mulya Hidayat, mereka menyebut bahwa “semata-mata ketidaktahuan kami terhadap sumber-sumber yang harus dihubungi”. Hm.

Screenshot 20180205 043406

Judul FTVnya adalah “Misteri Rumah Tjong A Fie”. Dari sini, sudah jelas bahwa sebenarnya yang coba mereka kupas adalah Tjong A Fie Mansion yang menjadi salah satu situs bersejarah bagi warga Medan yang cukup sering dikunjungi banyak pihak dan masuk media massa. Sehingga, memang agak aneh kalau mereka mengatakan bahwa sumber-sumber yang harus dihubungi tidak ada.

Apakah ini hanya sekedar alibi? Entahlah. Tapi, patut diapresiasi juga untuk MAX Pictures yang mau menanggapi soal viralitas kasus yang menimpa FTV yang mereka produksi.

Ngomong-ngomong, jadi inget nih. Kasus semacam ini yang dulu sempat viral adalah ketika program Katakan Putus Trans TV (wkwk, kok kebetulan sih) memakai sebuah rumah yang dianggap tak berizin oleh pemilik rumah, dan “hanya membayar izin kepada asisten rumah tangga yang berjaga”. Sudah tak berizin, sang pemilik rumah juga mencap program ini sebagai rekayasa (meski memang cap ini sudah perlahan terkuak : adanya selebaran casting program ini di sebuah tempat yang terlanjur beredar di sosial media – sayang kelupaan discreenshot).

Agaknya, persoalan tentang riset dan perizinan di industri pertelevisian memang menjadi sebuah masalah yang tiada usai. Entah kenapa saya menganggap industri pertelevisian masih meremehkan keduanya. Riset yang nampak seadanya, perizinan dan hak cipta yang kadang amburadul. Seakan riset dan perizinan bisa kalah dengan proses yang sering dinamai “kejar tayang” produksi program yang kian hari kian sibuk saja.

Mungkin ada yang sudah menerapkan riset dan perizinan yang baik. Sudah juga menghargai hak cipta karya orang lain yang dipergunakan sebagai footage dari tayangan mereka. Namun, kebanyakan masih meremehkan hal ini dalam SOP produksi. Mereka lebih menguatkan pen

Jika terkait dengan rumah produksi atau program yang berasal dari pihak ketiga, stasiun TV seperti nampak lepas tangan dari program pihak ketiga ini, termasuk pada kasus yang dialami oleh Trans 7 ini. Sehingga, stasiun TV tidak menerapkan standar produksi yang sesuai dengan kebijakan dan budaya yang dianut oleh stasiun TV bersangkutan. Hubungan keduanya hanya soal akuisisi/jual beli dan soal strategi programming. Tapi, stasiun TV tak mengontrol produksinya (setidaknya pada tahap quality control) dan menerapkan standar produksi dan etika yang sama.

Sebenarnya, langkah mengontrol program pihak ketiga – terutama program drama – sudah dilakukan stasiun TV kita. Dulu, Trans TV dengan program FTV “Bioskop Indonesia” yang bekerjasama dengan beberapa rumah produksi ikut melakukan produksi FTV dan juga menerapkan standar produksi yang sesuai dengan brand Trans TV. Produksi FTV ini dilakukan dibawah divisi Film, Drama dan Sport. NET, juga melaksanakan produksi dengan gaya seperti ini pada program dramanya, dimana ada “intervensi” dari stasiun TV dalam produksi program. Program Kesempurnaan Cinta serta Cinta dan Rahasia menjadi contohnya.

Dengan kontrol semacam ini, selain menguntungkan secara strategi programming, juga tentu saja memudahkan transfer standar produksi dan etika yang sesuai. Rumah produksi jadi dibiasakan untuk tak asal memproduksi, namun juga mengikuti gaya kerja dari stasiun TV.

Memang, semua tergantung stasiun TV. Stasiun TV punya cara kerjanya sendiri-sendiri yang berbeda dan tak bisa disamakan. Namun, stasiun TV setidaknya jangan benar-benar lepas tangan soal riset, perizinan dan juga soal standar produksi. Mereka mau tak mau harus melaksanakan quality control yang ketat dan tak bisa sembarangan dalam produksi. Meskipun timeline produksi ketat, namun ada aturan yang tetap mengikat mereka.

Jangan sampai, persoalan semacam ini sampai persoalan program Dahsyat yang “melecehkan” tentara dengan gamesnya yang viral itu terus terulang, hanya karena soal kejar tayang dan timeline ketat.

Semua gambar disini berasal dari Instastories dari @riccocheza dan capture dari akun instagram MAX Pictures.

(page 3/3)

Update
Screenshot_20180214_022814

Standar
Sosial Masyarakat

Critics for Dummies (Apapun Tentang Kritik untuk Pemula) Jilid 3 – Terakhir


Sudah baca artikel yang pertama dan kedua belom? Baca dululah.

Lah kok gitu sih bang? Kan udah jelas mereka berpihak kemana, itu jelas mereka kalau kritik ngga bakalan pernah jernih karena udah ketauan jelas mereka ngarahnya kemana.

Apakah ada prasyarat kalau kritik harus selalu di posisi netral? Sepanjang pengalaman saya sih, ngga ada orang kritik harus selalu di posisi netral. Ngga masalah posisinya ada disisi sebelah mana, asalkan kritik yang dibuat adalah kritik yang memang punya argumen kuat dan pelengkap yang kuat juga. Kalau cuma membuat kritik tapi tanpa argumen kuat, basic yang kuat dan hanya sekedar sebagai “pembela” satu sisi yang didukung dengan penuh emosi, drama, mempertahankan kebodohan tanpa keinginan membuka pengetahuan-perspektif baru dan memunculkan kengototan yang nyata, fix ini layak disebut haters.

Hmm, okeoke. Ada lagi catetannya bang?

Ketiga. Yang namanya kritik itu ngga penting disampaikan saat kita lagi kurang kerjaan atau tidak. CATET. Kritik bisa disampaikan kapanpun dan dalam kondisi apapun. Jadi, jangan sembarangan mengatakan orang yang mengkritik itu kurang kerjaan. Ini sama saja dengan melemahkan pemikiran orang-orang untuk memilih prinsipnya sendiri dan ini sama saja membungkam pendapat orang yang berbeda. Ini sama sekali tidak menghargai kebhinnekaan dan sama sekali melecehkan.

((((Duileh, saya jadi kek orang bener aja xixixixi ~)))

Keempat. Kritik ngga hanya soal menyerang dan menyerang. Tapi kritik adalah bagian dari kontemplasi/introspeksi diri. Ini yang suka dilupakan sebagian dari kita saat menyatakan kritik.

Memang, tadi diatas saya menjelaskan sedikit soal strategi membuat kritik dan membuat serangan terkait argumen melawan kritik yang dibuat. Namun, jangan pernah lupa bahwa kita tak pernah sempurna. Kritik yang dibuat terkadang bisa saja tak bermakna, atau mungkin tak bisa/kurang dipahami lawan/pembaca. Banyak hal yang terjadi soal kritik. Sehingga, ketika menyampaikan kritik, kita juga harus paham tiga hal : ada orang yang melawan, ada orang yang diam serta masa bodoh dan ada orang yang mendukung.

Kita jangan tersanjung puja oleh like, share ataupun bentuk viralitas lain yang memasuki kritik kita. Kita juga jangan emosi kalau ada orang yang melawan. Tetap rasional dan tahan emosi tak perlu. Jika memang ada orang yang diam dan masa bodoh, ya sudah, itu prinsip dan pilihan mereka.

Dengan mengkritik, kita sebenarnya juga sedang introspeksi diri. Seberapa paham sih kita sama apa yang dikritik? Seberapa ngerti ga sih kita hak kita kalau mengkritik layanan publik dan jasa layanan yang kita gunakan? Seberapa tahan emosikah kita menghadapi orang-orang yang bisa saja menanggapi kritik secara sinis, menganggap remeh dan tidak seresponsif seperti yang kita inginkan?

Toh, kalau memang niat kita mengkritik adalah mengharap perubahan, kontemplasi diri semua pihak dan memberikan pencerahan buat orang terhadap satu isu, ya tentu saja kita akan kuat di niat ini.

Last, but not a least. Niat. Kita mau mengkritik buat apa? Buat panjat sosial? Buat mencri popularitas dari dunia yang penuh dengan viralitas untuk mencari siapa yang terpelatuk? Buat pencerahan? Buat mengharap perubahan? Buat kebaikan sesama? Buat pelayanan yang lebih baik? Buat apa?

Kalau yang ini sih, saya ngga mau comment banyak ah. Silahkan direnungkan sendiri, karena yang tahu hanya kita dan Yang Diatas saja.

Akhirul kalam, punya kesimpulan ga bang?

Hmm. Kesimpulannya adalah mari memandang kritik tak selamanya harus melaksanakan upaya defensif, dianggap hanya sekedar kecerewetan, kenyinyiran, ataupun hater belaka. Kritik juga tidak selalu tanda ketidaksetujuan.

Memang, buat kita yang menerima kritik, terkadang kita ngerasa pedas aja nih mata dan telinga dan secara otomatis mempertahankan diri dan melawan. Kalau sudah begini, mari segarkan pikiran dulu. Segarkan perspektif. Mari berpikir kembali. Perlu didengarkan kritiknya? Perlu dipertimbangkan? Apakah ada yang harus dibuang? Silahkan difilter sendiri-sendiri.

Biar ngga pusing baca tulisannya, saya rangkum poin-poin penting disini deh.

  • Kritik bisa disampaikan siapa saja, tak perlu dan tak selalu harus menjadi obyek pengkritik atau “membalas karya dengan karya”, karena kita bisa menyampaikan kritik sesuai dengan keahlian, pengalaman dan pengetahuan kita yang berbeda-beda.
  • Tak perlu selalu jadi netral untuk bisa mengkritik. Berada di salah satu sisi juga bisa mengkritik, bahkan mengkritik sesama dan sepemahaman didalam pemikiran dan perspektif kita pun sah-sah saja.
  • Kritik bisa disampaikan kapan saja dengan kondisi apa saja. Ngga ada istilah kurang kerjaan untuk mengkritik. Asal tetap disusun dengan argumen yang benar.
  • Kritik adalah bagian dari kontemplasi diri, bukan hanya buat yang menerima kritik, namun justru kita sendiri juga ikut didalamnya.
  • Kritik didasari dari niat.

Ya, saya membikin tulisan paling panjang selama saya menulis artikel dalam 4 tahun terakhir (5 halaman dengan jumlah kata lebih dari 2000) ini, juga mungkin sebagai tamparan buat saya sendiri. Kalau teman-teman mau mengingatkan saya, boleh kok pakai artikel ini. Saya disini tak merasa paling benar. Cuma ingin sharing dan sedikit mengubah persepsi orang soal mengkritik itu sendiri.

Ada komentar?

Standar
Sosial Masyarakat

Critics for Dummies (Apapun Tentang Kritik untuk Pemula) Jilid 2


Btw, sebelum baca artikel ini, sudah baca artikel bagian pertamanya, belom? Baca dululah. 

Apaan emang catatannya?

Catatannya ada beberapa. Pertama, kritikan bisa disampaikan siapa saja. Ini enaknya kritikan. Misal, untuk mengkritik pemerintah, tak mesti kita menjadi anggota legislatif, presiden, menteri, staf kenegaraan atau menjadi orang di lini pemerintahan tersebut. Kenapa? Kritikan adalah warna-warni perspektif. Kita tak mesti menjadi obyek pengkritik hanya demi mengkritik.

Saya sering mendengar : “lu ngapain capek-capek ngritik? Bales karya dengan karya dong…”

Ini memang ada benarnya. Tapi, tak semua orang mampu membalas karya/kerja yang dikritik tersebut. Kenapa? Karena kemampuan dan keahlian orang berbeda-beda. Selain itu, tak semua orang juga mampu memadukan karya dengan kritik. Jadi, jangan memaksa orang membalas karya dengan karya. Masing-masing punya kontribusi sendiri untuk mengkritik, dengan nilai yang berbeda-beda, untuk harapan yang sama.

Lah, kalo gitu lu ngga ngerasain yang jadi dikritik dong? Lu cuma jadi asbun aja pak kalau lu ngga paham yang dikritik or setidaknya pernah masuk jadi yang dikritik?

Ngga, jangan dipotong dulu. Kritikan memang bisa disampaikan siapa saja dan tak harus menjadi obyek pengkritik dulu baru mengkritik. Namun kita setidaknya punya basic umum terkait yang dikritik atau hal yang dikritik. Basic ini bukan hanya pengetahuan atau keilmuan, namun juga praktek di lapangan atau pengalaman.

Misal, saya bekerja di industri internet/jaringan internet. Selain itu, saya juga bersekolah di sekolah yang kompetensinya adalah jaringan, sehingga sah-sah saja jika saya mengkritik soal koneksi internet atau hal-hal lain yang berkenaan dengan jaringan. Ini karena saya mengalaminya dan terjun langsung didalamnya.

Jadi, saya mengkritik persoalan karena saya punya basic.

Dengan demikian, kita ngga benar-benar kosong akan hal yang kita kritik, sehingga kalau ada orang melemparkan argumen ke kita, kita bisa enak buat “melempar balik”. Setidaknya kalaupun tak terlalu paham, kita tahu istilah-istilah yang keluar dari diskusi dan kritik yang muncul. Jadi kita masih bisa nyambung dan ngga asbun semata.

Lah, lu bilang tadi katanya ngga usah jadi obyek pengkritik untuk mengkritik, kok pake syarat dan ketentuan berlaku sih?

Begini, kritik memang berasal dari berbagai perspektif dan warna-warni. Namun, tak mungkin seutuhnya kita mengkritik tanpa ada pengetahuan soal yang dikritik. Misal, kamu protes soal program televisi yang buruk mutunya dan melecehkan, namun kamu ngga tahu soal rating dan share, yang bisa menjadi salah satu alasan utama stasiun TV rela “melacurkan” kualitas programnya, kamu bisa dikatakan asbun.

Bukan berarti kamu ngga boleh kritik sama sekali hanya karena kamu ngga tahu soal yang kamu kritik atau kamu kritik cuma karena hal itu viral terus kamu nimbrung didalamnya, namun dengan adanya pengetahuan dan pengalaman (boleh pilih salah satu), kritik kamu akan lebih didengarkan. Selain itu, ini juga akan membedakan kamu dengan haters atau istilah-istilah sejenisnya yang seringkali merendahkan bagaimana kritik dibuat dan menghilangkan substansi dari isi kritik.

Seperti yang saya bilang tadi diatas, kendala kritik itu salah satunya adalah komunikasi dari sisi pengkritik tampar diri sendiri.

Nah kalo misalnya gua nih, pengen kritik soal beberapa hal di isu politik tapi gua gapernah kuliah di politik atau jadi anggota legislatif, gimana tuh bang?

Pengetahuan jadi yang utama. Kamu harus banyak baca berita soal politik, entah dalam atau luar negeri, tergantung ketertarikan pada isu politik mana yang kamu pilih. Cari pengetahuan soal politik dan sistem yang berkembang, baik dari buku, internet atau dari sumber lainnya. Selain itu, diskusi dengan orang-orang sepemahaman dalam suatu komunitas juga akan memperluas pandangan, serta tentu saja rajin mendengarkan suara-suara dari orang yang tak sepemahaman, untuk mengetahui titik lemah argumen mereka dan tentu saja untuk memikirkan perspektif apa yang bisa dipakai untuk mengkritik.

Case di pertanyaan ini bisa juga dipakai kalau teman-teman mungkin punya kritik di isu-isu yang lain. Intinya hanya banyak baca, diskusi dan rajin mendengarkan.

Jadi, kesimpulannya mengkritik itu menghargai perbedaan perspektif yang berwarna-warni, namun harus tetap punya dasar dan memiliki pemahaman ya?

Betul sekali. Jangan betul-betul kosong. Bisa dianggap haters atau dianggap cuma membuat keributan. Ini kalau memang kritik kita niatnya untuk memperbaiki dan membangun, bukan cuma buat panjat sosial atau cari ketenaran.

Terus, catatan keduanya?

Yang kedua, meskipun kita ada di salah satu sisi, antara pro atau kontra, tak masalah jika kita mengkritik orang yang berada satu kubu dan sepemahaman dengan kita. Justru ini malah membuka warna baru dari keseragaman yang ada. Selain itu, ini juga menjadi tanda bahwa kita juga punya rasionalitas dalam memilih satu sisi. Juga sebagai tanda bahwa demokrasi tengah berjalan dan ini sah-sah adanya. Banyak orang menganggap bahwa jika seseorang berada di salah satu sisi, pasti orang ini akan selamanya sepemikiran dengan yang sekubu dengannya. Tentu saja tidak. Dalam banyak kasus, hal ini lazimnya terjadi.

Perkenalkan, ada manusia bernama Asus (leh merek kompi nih) yang mendukung kebijakan pemerintah, sementara ada manusia lain bernama Sharp (lah lah, merek lagi) yang menganggap kebijakan pemerintah itu salah dan dikritik dengan data dan argumen. Nah, “sekutu” alias “teman sepemahaman” Asus namanya Panasonic (leh?). Asus mengeluarkan argumen, Sharp mengeluarkan argumen. Argumen yang dikeluarkan tentu saja segaris dengan pemahaman dan perspektif mereka terhadap kebijakan pemerintah. Panasonic tentu saja setuju dengan pendapat Asus dalam satu kebijakan pemerintah, sebuah hal yang tentu saja dpahami demikian oleh pihak yang berlawanan. Namun, ada satu kebijakan pemerintah lain yang membuat Asus dan Panasonic memiliki pendapat yang agak berlawanan.

Panasonic setuju dengan kebijakan pemerintah (dan secara otomatis dengan Asus pula), namun ada beberapa catatan yang tentu si Asus tak setuju.

Buat “tetangga” sebelah, mungkin hal ini dianggap sebagai bentuk perpecahan yang bisa dimanfaatkan secara potensial untuk mendorong argumen dari “tetangga” alias kubunya Sharp ini kuat. Namun, sebenarnya ini tidak bisa dianggap perpecahan. Kita harus benar-benar melihat dinamika yang ada, termasuk soal argumen yang dilemparkan masing-masing dari mereka. Tentu intinya akan jelas : segaris atau tidak.

Lah kok gitu sih bang? Kan udah jelas mereka berpihak kemana, itu jelas mereka kalau kritik ngga bakalan pernah jernih karena udah ketauan jelas mereka ngarahnya kemana.

Mau tahu jawabannya? Bagian terakhirnya segera rilis bor.

Standar