Penyiaran

Memulai dengan Investasi


Haloha, saya kembali lagi. Situasi belakangan ini membuat saya harus membagi waktu untuk dapat bisa menulis kembali. Akhirnya saya menyempatkan kembali untuk menulis di blog ini.

Kesibukan saya kini bertambah. Selain tetap bekerja di dunia nyata dan merancang konsep serta tampilan dari Sisi.silang, saya kini juga harus memantau portofolio investasi dan berita ekonomi.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah cerita di Twitter dan Instagram saya pribadi sedikit menjelaskan overview tentang investasi itu sendiri. Sebagai tambahan, di Twitter saya juga menceritakan bagaimana saya terjun ke dunia investasi itu sendiri (plus curhatan saya pribadi wkwk). Nah, kali ini saya ingin sedikit berbagi secara lebih utuh dari berbagai kepingan cerita cerita saya di sosial media tersebut.

Disclaimer : Akan ada beberapa merek dan nama yang akan saya tulis disini. Semua itu bukanlah endorse. Semua keputusan investasi kembali kepada pembaca. Selalu pahami resiko dan tujuan, teratur berinvestasi dan alokasikan dana dengan baik, serta tidak berhutang untuk melakukan investasi.

Saya dan Investasi

Seperti yang sudah saya ceritakan di Twitter, saya mengenal investasi sebetulnya sudah sejak lama. Meskipun waktu itu saya memang belum terjun langsung karena waktu itu saya masih SMP. Jenis investasi pertama yang saya kenal : saham.

Jaman saya sekolah dulu, saya rasa belum digalakkan sosialisasi soal pasar modal dan melek finansial yang diadakan roadshow ke sekolah-sekolah seperti yang kini makin banyak dilakukan oleh sekuritas maupun manajer investasi. Atau, mungkin sekolah saya tak mendapat jatah sosialisasi tersebut? Entahlah. Namun yang pasti, semua saya pelajari secara otodidak.

Saya mengenal beberapa emiten di bursa, saya membaca laporan keuangan mereka, saya mengenal sedikit banyak istilah istilah pasar modal, meskipun ya ujung-ujungnya masih ngga ngerti. Mungkin baru belakangan ini saya lebih ngerti tentang istilah istilah tersebut, yang ternyata cukup mempermudah dalam pembelajaran saya ketika saya terjun dalam dunia investasi ini.

Namun, saya memulai perjalanan saya dengan investasi baru pada tahun ini. Iya, bisa dikatakan saya newbie hehe. Awalnya saya tergoda karena Bukareksa, platform penjualan reksadana dari Bareksa dan Bukalapak. Produk pertama investasi saya adalah reksadana. Sampai hari ini saya pegang reksadana tersebut : CIMB Principal Bukareksa Pasar Uang dari CIMB Principal Asset Management. Semua perjalanan dan kegandrungan saya akan investasi berlanjut kemudian.

Saya masih ingat betul ketika saya melepas salah satu reksadana milik saya karena saat saya top up reksadana tersebut harganya tiap hari terus mengalami penurunan, hampir mirip dengan jurang. Selama hampir sebulan harganya terus turun hingga di bulan selanjutnya harganya kembali ke harga semula. Menyesal sih ada, tapi setidaknya kini hal tersebut menjadi sebuah pelajaran berharga.

Setidaknya kini saya memiliki banyak portofolio reksadana di hampir sebagian besar top 20 manajer investasi di Indonesia berdasar dana kelolaan atau AUM (Asset Under Management) dan hampir semua jenis reksadana, baik pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham. Kebetulan memang saya ada dana yang cukup untuk membeli beberapa reksadana sekaligus karena ada pembayaran piutang dari beberapa peminjam, baik dari keluarga ataupun orang lain.

Sebenarnya sih hal ini ngga disarankan. Buat pembaca yang pemula, sebenarnya lebih disarankan antara reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap. Kedua jenis reksadana ini cenderung lebih aman daripada reksadana campuran dan saham. Seiring kemampuan diri memahami resiko, makin lama kita bisa memilih reksadana yang lebih “menantang” seperti reksadana campuran atau saham.

Reksadana pasar uang isinya deposito beberapa bank di negeri ini yang terkadang dikombinasikan dengan obligasi korporasi/pemerintah yang sudah mau jatuh tempo. Performa reksadana ini cenderung paling stabil dari resiko, meskipun tetap ada kemungkinan penurunan harga unitnya yang biasanya tak dalam dan bersifat sementara (ini kalau kebanyakan portofolio reksadananya obligasi).

Reksadana pendapatan tetap isinya obligasi, baik korporasi maupun pemerintah. Ada yang full isi obligasi korporasi, dan ada juga yang full isi obligasi pemerintah. Ada yang kombinasi. Situasi seperti sekarang ini memang membuat tantangan pada obligasi pemerintah dan korporasi, sehingga rata rata return reksadana jenis ini minus sejak awal tahun ini.

Reksadana campuran, seperti namanya berisi campuran portofolio saham dan obligasi. Pembagian portofolio masing masing instrumen investasi tersebut berbeda beda antar satu reksadana dengan reksadana lain. Ada yang besar porsinya di saham, ada yang besar di obligasi. Ada yang bahkan besar porsinya di deposito. Performa reksadana campuran ini tergantung salah satunya pada porsi portofolio instrumen investasi yang terbesar. Namun, sama halnya seperti reksadana pendapatan tetap atau saham, pada tahun ini reksadana ini banyak yang masih minus.

Terakhir, reksadana saham. Isinya lebih besar di saham-saham perusahaan terbuka di bursa saham. Rata rata reksadana saham biasanya memiliki bobot pada perusahaan-perusahaan yang pasti sebagian besar kita mengenalnya, seperti BCA, Mandiri, BRI, Unilever, Indofood dan lain sebagainya (disebut saham blue chips), meskipun ada beberapa perusahaan yang melakukan perubahan drastis pada bobot saham-sahamnya dengan memilih perusahaan perusahaan “antimainstream”.

Hayo, dipilih dipilih.

Yang penting sudah tahu salah satu resikonya reksadana : penurunan keuntungan, bahkan menjadi rugi. Meskipun memang penurunan keuntungan dan rugi dimaksud baru terealisasi alias kejadian ketika kita menjual reksadana dimaksud, namun saya harus menyarankan ini karena melihat kasus saya sendiri di paragraf sebelumnya. Ngga mau dong menyesal cuma karena melihat portofolio merah, padahal cuma minus Rp 100-200 perak, kan?

Sebenarnya resiko di reksadana ada banyak, dari soal kondisi makroekonomi dan politik negeri, persoalan likuiditas dan keterlambatan penjualan efek (jika ada banyak pemegang unit reksadana berbondong bondong menjual reksadana), penurunan keuntungan dan rugi akibat harga unit harian hingga soal likuidasi alias penutupan reksadana. Maka, selalu disarankan juga membaca prospektus reksadana sebelum membeli.

Oke, lanjut ya.

Setelah reksadana, saya kemudian masuk ke saham. Sebuah hal yang pertama kali saya pelajari, namun justru malah masuk belakangan. Kenapa akhirnya saya masuk ke instrumen saham secara langsung setelah reksadana? Ini karena saya berpikir bahwa ini adalah kesempatan saya untuk bisa memegang saham beberapa perusahaan perusahaan yang saya kenal dekat dengan keseharian saya, sekalian memperdalam pengetahuan dasar saya setelah mengenal istilah istilah pasar modal yang sudah saya pelajari sejak SMP.

Selain itu, biar rekening efek yang sudah saya buka di sekuritas anggota bursa tidak terbuang sia-sia. Jadi, ada cerita cukup unik dibalik hal ini. Saya membuka rekening efek di Mandiri Sekuritas (rekening efek pertama saya, sekarang saya ada 3 rekening efek di 3 sekuritas berbeda) hanya karena ingin memiliki reksadana yang kebetulan hanya dijual di sekuritas tersebut (ada satu sekuritas lain sebetulnya yang menjual reksadana ini, namun karena akses dan nama besar saya memilih sekuritas ini). Saya mencari di platform reksadana terkemuka tidak ada, sehingga mau ngga mau saya harus membuka rekening efek ini untuk dapat memboyong reksadana tersebut. Akhirnya saya pikir daripada cuma buat reksadana saja, sekalian saja saya beli saham. Jadi sambil mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Pembelian saham pertama saya adalah MARI. Tahu kode emiten ini? MARI alias Mahaka Radio Integra saya beli setelah aksi stock split 1:10 yang mereka lakukan. Awalnya saya ingin membeli ketika harga saham per lembar mereka di angka Rp2000an. Namun, akhirnya saya baru bisa mengeksekusi pembelian saya ketika stock split selesai dilakukan. Sampai saat ini saya masih mempertahankan saham di perusahaan ini karena faktor kedekatan saya dengan stasiun radio dibawah grup ini, dimana saya sering mendengarkan beberapa stasiun radio dari grup ini. Selain itu, faktor bahwa mereka adalah market leader diantara sejumlah grup radio besar di Jakarta juga membuat saya yakin mempertahankannya.

Hingga saat ini, saham-saham yang saya beli berasal dari berbagai lini usaha. Dari jasa keuangan, pertambangan, transportasi, supermarket hingga media massa. Awalnya target utama saya adalah saham grup media massa, mengingat karena saya menjadi penulis soal media sehingga saya perlu mencermati saham-saham grup media massa. Namun untuk memvariasikan portofolio, saya mendekati beberapa lini usaha. Namun, prinsip saya jelas, perusahaan tersebut harus saya tahu atau minimal ada di top-of-mind saya.

Seperti halnya pemula, saya pernah terjebak di emiten berharga saham gocap alias Rp50 perak. Tahu perusahaan apa? Baru baru ini harga sahamnya melonjak drastis karena pemiliknya jadi ketua tim pemenangan calon presiden-wakil presiden petahana. Saya sejak lama telah ingin menjual saham perusahaan ini karena tidak ada pergerakan sama sekali, hingga akhirnya ketika harga saham perusahaan ini berhasil mantul, saatnya “bersih bersih”. Lupakan saja kalau saya pernah megang saham ini.

Sampai saat ini, portofolio investasi saya masih cukup banyak yang minus. Hehe. Tapi, setidaknya banyak hal baru yang masih terus saya pelajari.

Target saya berikutnya : obligasi pemerintah dan deposito. Doakan saja mudah mudahan bisa masuk ke kedua instrumen tersebut, aamiin.

Mengapa oh Mengapa?

Mengapa kemudian saya berinvestasi? Salah satu alasannya yang saya pikir akan terlihat klise : mewujudkan beberapa rencana saya. Rencana terdekat saya adalah melanjutkan ke bangku kuliah. Sebenarnya sebelum saya berinvestasi seperti ini, saya sebelumnya sudah pernah mencoba menabung dari gaji saya untuk rencana ini. Namun, saya pikir saya akan mencoba saja untuk berinvestasi dan hasilnya nanti bisa saya gunakan untuk bisa mewujudkannya.

Namun, alasan lain saya berinvestasi adalah untuk mendukung. Mendukung perusahaan yang saya beli sahamnya, mendukung orang orang disekitar saya, mendukung juga pasar modal negeri ini.

Kebanyakan alasan ketika saya membeli sebuah saham perusahaan yang kini masuk portofolio saya adalah alasan personal atau kedekatan. Semisal perusahaan tersebut pernah atau masih jadi customer di tempat saya bekerja, orang tua saya bekerja di perusahaan tersebut atau saya menjadi customer atau pemirsa atau pendengar dari layanan/produk perusahaan tersebut. Alasan-alasan personal ini mungkin nampak terlalu naif dan akan diwanti-wanti untuk memperhatikan fundamental-teknikalnya agar tak salah jalan, terjebak di perusahaan-perusahaan yang “jahat” dan mempermainkan pemegang saham publiknya.

Namun, buat saya pribadi, alasan-alasan personal ini setidaknya cukup menumbuhkan optimisme bahwa saya bisa berkembang lebih jauh, dengan belajar banyak hal, baik soal fundamental-teknikal tadi maupun juga soal soal lainnya yang diharap mampu memberikan wawasan baru secara langsung ataupun tidak langsung buat saya. Seperti misalnya ketika saya memegang saham grup media massa, dimana saya bisa memberikan wawasan baru kepada masyarakat dari pengamatan saya dan juga saya bisa mendapat wawasan baru dari aktivitas grup media massa tersebut.

Saya juga belajar tentang ekonomi dan juga menata keuangan saya pribadi. Meskipun memang masih tahap dimana konsistensi keuangan saya diuji, namun saya mencoba untuk tetap terus belajar untuk memperbaiki “bocor-bocor” yang terjadi selama ini.

Selain itu, dengan saya berinvestasi, saya mendukung pasar modal negeri ini. Ya, memang sih dana yang saya bisa keluarkan tak seberapa. Namun, saya berharap dengan setitik kecil dukungan saya untuk bangsa lewat investasi ini, saya bisa sedikit membantu perekonomian negara ini, baik langsung maupun tidak langsung.

Ketika orang orang diluar sana sibuk menyebarkan ketakutan akan kondisi ekonomi negara ini yang dikatakan mengarah pada krisis multidimensi 2 dekade lalu dan kemudian menggiringnya ke ranah politik sebagai bentuk kegagalan pemerintah yang terlalu memprioritaskan infrastruktur dan abai pada pertanda-pertanda “alam” yang entah mengapa kemudian dibelokkan menjadi urusan pilpres, saya memilih menjauh dari ketakutan tersebut dan memilih tetap bertahan. Memang sih, ketakutan itu masih ada. Namun, daripada terjebak pada retorika-retorika belaka yang tak saya pahami, saya memilih menjauh dan sibuk mengedukasi diri dengan informasi-informasi yang bermanfaat buat investasi saya.

Ya beginilah cerita saya, hehe. Semoga ada faedahnya.

Jangan lupa temukan saya di Stockbit dengan username rinaldom0507.

Iklan
Standar
Artikel Iseng

Jadi Customer Service itu…


Hai, saya kembali di blog ini. Tentu, kembali bukan berarti dengan situasi yang sama. Namun, berubah menjadi lebih intim sehingga blog ini jadi blog “pribadi” seutuhnya.  

Belakangan ini saya sibuk dengan Sisi.silang yang akan dirombak tampilannya. Selain itu aktivitas dunia nyata saya juga menyita pikiran dan tenaga. Sehingga memang nampaknya otak jadi seperti tak terbiasa untuk berpikir soal tulisan baru.  

Namun apapun itu, saya sekarang mencoba kembali menjadi seorang Rinhardi Aldo dalam blog ini, sehingga semua pendapat saya di blog ini adalah concern dan tanggung jawab saya pribadi. 

Tak terasa sudah dua tahun saya bekerja di sebuah ISP di Jakarta. Pekerjaan saya disebut sebagai “Helpdesk”, baik dalam dokumen resmi atau dokumen tak resmi, namun untuk memudahkan orang, saya sering mengatakan pekerjaan saya ini CS alias “Customer Service”. Secara kebetulan, di perusahaan saya, bagian saya ini masuk di divisi CS. Jadi, tak salah kalau saya menyebut saya ini sama dengan CS, bukan? 

Pekerjaan saya sebetulnya hampir sama seperti kebanyakan CS diluar sana, entah yang sesama ISP ataupun bisnis jasa lain secara umum : terima telepon dari customer dan balas email. Saya membantu customer menyelesaikan masalah koneksinya, dimana pada bagian saya ini adalah bagian teknis. Jadi tiap problem yang terjadi soal jaringan akan pertama kali masuk dari level pekerjaan saya ini, sesuai dengan level ekskalasi yang tersedia. 

Wait… Kok tumben menulis soal pekerjaan?  

Jadi ceritanya ide tulisan ini bermula dari kehebohan yang sempat terjadi beberapa waktu yang lalu di ranah maya, ketika PT Kereta Commuter Indonesia (d/h PT Kereta Commuter Jabodetabek), operator penyelenggara transportasi KRL/Commuter Line di Jabodetabek terpaksa kembali dengan sistem manual alias robek tiket kertas akibat terhambatnya proses updating sistem e-ticketing saat itu, yang memicu protes keras dari sejumlah pengguna setia KRL.  

Dari sekian banyak protes keras, protes yang cukup sering bergaung adalah “ini kok CS (or mimin) kerjanya copas tulisan mulu sih”, melihat banyaknya bahasa mohon maaf dengan redaksi yang hampir serupa yang dihaturkan mimin akun resmi Twitter Commuter Line saat pengumuman atas kendala tersebut disampaikan. Mereka pada umumnya menganggap bahwa redaksi balasan yang dihaturkan secara copas tersebut sebagai salah satu tanda bahwa mereka tak melayani serius customer mereka or kalau bahasa marketingnya “customer oriented”. 

Saat itulah jiwa “CS” bergemuruh. Saya pun mencoba membalas sebagian dari protes mereka tersebut yang menurut saya salah kaprah dan tampak meremehkan pekerjaan ini. 

Pada intinya dalam komen saya, saya mencoba menempatkan diri pada dua situasi. Situasi saya sebagai customer dan situasi saya sebagai CS. Saya sebagai customer jelas saja kesal kalau kasus yang saya alami tidak kunjung ditangani serius dan berujung pada redaksi copas hingga mengeluarkan nomor ticket acak yang entah saya tak tahu apakah nomor ticket tersebut valid atau tidak. Ini based dari kisah nyata lho, ehehe ~ 

Namun, disisi lain saya sebagai CS juga tak bisa berbuat apa-apa jika terdapat kendala yang berada diluar kendali. Penyelesaian masalah juga butuh waktu dan tidak bisa langsung solved.  Sehingga untuk mengurangi persoalan berkelanjutan akibat situasi dan kendala tersebut, kita hanya bisa bekerja sesuai SOP untuk “menenangkan” customer dan menjaga agar customer tetap terjaga ekspektasinya tanpa mengurangi kepercayaan, apalagi menyebarkan spekulasi-spekulasi yang buruk dalam situasi ini.  

Jangan salah, pekerjaan jadi CS tak segampang apa yang banyak orang pikirkan : bekerja asal copas tanpa mementingkan kepuasan dan solvednya case yang dialami customer.  

Bekerja jadi CS selalu memerlukan SOP. Ya, SOP ini sangat penting untuk menjaga sistem yang berjalan yang akan memberikan kepuasan, bukan hanya kepada customer namun juga buat internal tim terkait. Visi utama tentu saja memberikan kepuasan bagi klien/customer, namun jika tidak ada kepuasan dan kenyamanan dari sisi internal tim terkait, ujung-ujungnya juga akan secara tidak langsung berpengaruh kepada customer.  

Jadi, buat saya, salah kalau dikatakan SOP hanya terkait dengan customer dan harus menyesuaikan kemauan customer belaka. 

Selain itu, kerja jadi CS menuntut secara tak langsung jadi multitasking. Mungkin kalau di beberapa perusahaan terkemuka beban multitaskingnya ngga terlalu berat karena untuk masing masing medium, baik telepon, email, messenger (like Whatsapp or Line) maupun sosial media ada tim masing masing yang menangani. 

Tapi kalau di perusahaan menengah? Multitasking menjadi penting jika harus menghandle minimal 2 medium, telepon dan email. Belum lagi jika ada aplikasi messenger yang harus dipergunakan buat komunikasi internal. 

Bisa dibayangkan ketika banyak notif belum terbaca muncul di aplikasi messenger, disaat ada email yang membutuhkan pemikiran untuk membalasnya dan tiba tiba ada telepon masuk dari customer yang komplain. Mantap, kan?  

Bukan. Saya tidak sedang mengeluh. Ini justru menjadi tantangan tersendiri. Meskipun yang namanya pusing memang terjadi. Tapi, toh pas saya pulang kerja juga rasanya sudah lega kembali. 

Jenis customer itu beragam. Ada yang biasa. Ada yang perfeksionis (harus ada update tiap waktu, bahkan ada interval tiap beberapa menit atau jam). Ada juga yang besar di cuap cuap cuap, merasa sudah melakukan hal yang seharusnya padahal mereka sendiri tidak melaksanakan apa yang dimintakan (dan mesti agak “didesak” buat melaksanakan). Ada juga yang nampak tak serius untuk dibantu menyelesaikan masalahnya (susah dikontak, tidak ada feedback lebih lanjut apa bisa diclose atau tidak). Macam macam. 

Semua jenis customer ini mesti dilayani dengan baik. Meski memang terkadang ada saja customer yang justru tidak masuk pada substansi komplain mereka, malah sibuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lain. Bahkan pada beberapa kasus, ada customer yang justru merendahkan harga diri mereka yang melayani si customer tersebut. 

Kembali lagi, namanya manusia biasa, tentu siapa yang tak gerah dengan customer yang begini.  

Namun, itulah keunikan seorang CS. Tetap saja mereka akan melayani semua dengan sebaik mungkin. Ya, meskipun memang terkadang mood akan cukup mempengaruhi, tapi tentu semua bisa terkendali.  

Bekerja jadi seorang CS bukan hanya sekedar bisa ngomong atau sekedar bisa balas dengan baik. Namun juga ternyata melatih banyak hal.  

Jadi, sudah paham kan sedikit soal CS ini sendiri? Heheh ~ 

Standar
AgendaIniKritikGue

The New ini.kritik.gue : Sisi.silang


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Dear all,

Sebelumnya, saya pribadi, sebagai pengelola (satu-satunya) ini.kritik.gue, berterima kasih atas kesetiaan dan kesediaannya dari para pembaca ini.kritik.gue sekalian selama 4 tahun ini, dari jaman saya masih SMK hingga kini sudah bekerja. Dari jaman masih menggunakan blog ini, hingga sempat berpindah domain ke inikritikgue.my.id.

Saya menghargai segala kritik dan saran yang telah diberikan, selama 4 tahun terakhir ini. Baik yang nyinyir maupun yang sportif. Baik yang alay maupun yang santun. Semua saya terima dengan sebaik mungkin. Meskipun memang terkadang saya harus mengakui ada beberapa hal yang membuat saya tak berkenan, namun apapun itu, saya tetap menerima dan menganggap bahwa semua itu, secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan support buat saya pribadi dan blog ini.

Mohon maaf jika selama ini ada hal-hal dari saya pribadi dan blog ini yang kurang berkenan dimata pembaca sekalian. Segala kesalahan adalah milik saya pribadi dan kesempurnaan hanya milik Tuhan YME, Allah SWT.

Mohon maaf juga karena selama beberapa bulan terakhir saya tak begitu aktif di dunia tulis menulis soal media massa dan mohon maaf juga karena selama beberapa bulan ini juga saya nampak plin plan dalam urusan konten. Boleh diakui, dalam beberapa waktu ini, selain menghadapi kesibukan yang cukup padat, saya juga mengalami kebosanan yang entah mengapa menghinggapi.

Meskipun persoalan dunia media massa, dari soal program Tanya Ustad Abdul Somad yang tidak jadi tayang di Trans 7 hingga perdebatan sengit antara Remotivi dan Tribunnews.com menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan, namun entah kenapa saya memilih meminggir dari opini terkait hal tersebut di blog saya ini.

Namun, dibalik kebosanan yang ada, saya terpikir untuk membuat sesuatu yang menarik dan Insya Allah menjadi salah satu portofolio terbesar saya buat masa depan saya nanti (eheheh ~ ). Nah, sesuatu ini yang saya akan bahas.

Well, let me introduce the new ini.kritik.gue : Sisi.silang.

Iya, bisa dikatakan Sisi.silang akan melanjutkan perjuangan, baik buat diri saya pribadi, maupun juga untuk hal-hal yang saya tekuni.

Monggo, yang mau tahu Sisi.silang, klik https://sisi-silang.id/.

Kalimat yang sangat utopis, sok-sok motivasi dan penuh dengan retorika yang tak berarti yak, heheh ~

Tapi, inilah yang sedang dan masih saya pelajari kedepannya. Saya mengupayakan konten yang menjadi alternatif, dengan banyak perspektif baru kedepannya yang lebih baik dan lebih punya banyak “sisi”. Hal inilah yang coba saya cerminkan dari nama Sisi.silang dan logonya.

Saya berusaha mempelajari konten dengan lebih baik. Saya berpikir, perlu banyak ruang baru yang lebih bisa dikembangkan daripada sekedar mengkritik. Namun, Sisi.silang tak akan menghilangkan kritik, sebuah napas yang membangun Sisi.silang ini. Tapi, Sisi.silang juga menghadirkan variasi konten yang lebih baik, terutama di dua ranah yang menjadi sajian utama : media dan siber. Oke, mungkin sebagian pembaca sudah paham soal media. Namun, siber?

Iya, sejak 2 tahun terakhir saya bekerja di dunia siber. Bukan. Bukan sebagai buzzer bayaran portal berita atau tokoh politik. Bukan juga sebagai influencer di sosmed (boro-boro jadi influencer, followersnya dikit beud ~). Namun, saya bekerja di ranah yang membuat kamu dan anda bisa internetan, sosmed, ngobrol sehari semalam sama pacar kamu, bikin warnet berbasis voucher, hingga menjadi penghubung untuk banyak korporasi di daerah pedalaman atau remote area untuk sekedar video call Skype dan berkirim email.

Iya, bekerja di ISP.

Saya pikir, dunia siber tidak hanya soal bagaimana kamu menjadi blogger, youtuber, influencer hingga buzzer. Dunia siber ini ghoib, kata senior saya di kantor. Bisa dibayangkan jaringan yang menjadi pantauan saya itu sebenarnya tak pernah nampak dan kelihatan jejaknya (ini baru jaringannya, belum orang-orang dibelakangnya, sama kayak anonimitas yang dijunjung tinggi oleh dunia siber ini wkwk ~). Tapi, yang ghoib beginilah yang justru membuat banyak orang memiliki hidup, penghidupan dan semangat. Meskipun gegara yang ghoib ini jugalah banyak orang rela tubir setengah modar (tubir = ribut) hingga mempengaruhi percaturan politik dan ekonomi negeri ini yang masih digoyang dengan rupiah mencapai Rp 14.000an per 1 dolar Amerika/USD wkwkwk ~

Nah, saatnya membuka tabir dari dunia siber ini. Seperti apa sih. Bagaimana sih.

Sebenarnya sih, rencana saya bukan hanya 2 hal ini yang dikembangkan. Ada beberapa rencana lain kedepannya yang akan coba dikembangkan seiring dengan waktu dan kesempatan yang ada. Salah satunya, mungkin vlog? Nantikan saja ~ Namun, yang jelas so hopefully Sisi.silang ini akan hadir dengan gaya yang berbeda namun punya value yang berkualitas.

Oh ya, kamu dan anda bisa juga menyumbang informasi dan opini untuk Sisi.silang, dengan berkirim email ke submit.tulisan@sisi-silang.id dengan subjek [NARASI] <spasi> judul tulisannya disini. Insya Allah ada honorarium menariklah.

Satu lagi, karena Sisi.silang saat ini masih versi beta, dimana secara tampilan dan fungsi masih memiliki kekurangan, monggo diinfokan jika ada kendala ataupun saran-saran menarik di foundthebug@sisi-silang.id.

Sisanya? Baca sendiri dong di sisi-silang.id.

Jangan lupa follow Twitter @sisisilang dan Instagram @sisisilang.id.

Akhirul kalam, mohon doa restu dari semua pembaca untuk Sisi.silang, semoga bisa terus lebih baik dan berkembang kedepannya (termasuk soal revenue, heheh ~). Tenang saja, rencananya selain iklan, mungkin saya akan upayakan pendapatan dari sumber lain untuk menghidupi Sisi.silang.

Kemudian, untuk pembaca yang masih ingin membaca artikel-artikel saya terdahulu, blog ini masih dibuka terus dan mungkin juga akan berubah fungsi menjadi pure blog pribadi saya. Kadang-kadang akan saya update jika sempat. Sans aja mas bro and sis.

Terima kasih dan terima kasih atas atensi dan dukungannya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Standar
AgendaIniKritikGue

New Feel.


Halo pembaca ini.kritik.gue,

Dengan ini kami mengumumkan bahwa akan ada sesuatu yang baru dari kami untuk anda dan kamu semua. Apa coba?

Segera dan simak per tanggal 5 Juni 2018 mendatang disini. Di blog yang sama dengan yang anda dan kamu baca saat ini.

Standar
ANTV, Paradoks dan Televisi, VIVA/Bakrie

Menegur talent yang bersalah.


“Aku minta maaf sama KPI juga, kalau aku salah. Aku cari uang di sini, hidupku dari entertain, kalau ada yang terganggu dengan kata-kata aku aku mohon maaf,”

Ngga usah minta maaf juga si Mpok ke KPI. Meskipun minta maaf adalah bagian dari pernyataan diri pribadi, namun konteksnya kali ini saya rasa tak tepat.

Ya, kita membicarakan soal teguran KPI alias Komisi Penyiaran Indonesia terhadap program Pesbukers ANTV yang menampilkan kata kasar dari si Mpok Eli Sugigi.

Kenapa saya mesti katakan bahwa ngga usah minta maaf ke KPI?

Saat ini, belum ada aturan dimana KPI berhak menegur talent-talent atau pengisi acara di program televisi maupun radio. Sepengetahuan saya, KPI memang baru ancang-ancang untuk membuat aturan dimana mereka berhak langsung menegur talent-talent yang ada, jadi tidak seperti sekarang dimana talent yang bersalah tapi tegurannya in-direct ke program atau stasiun TV yang bersangkutan.

Yang membuat penasaran, sebenarnya efektifkah teguran KPI ke talent-talent secara langsung?

Secara prosedural, jelaslah buat apa KPI menegur secara langsung talent-talent program televisi dan radio? Tugas pokok KPI lama-kelamaan melebar, semakin tidak jelas dan bisa menjadi semacam “polisi moral” jika mereka langsung tegur talent-talent tersebut secara individual. Hal ini jelas saja akan makin menimbulkan ketidaknyamanan buat para talent-talent pengisi acara untuk bisa berkarya. Ujung-ujungnya, anggapan “intelek” bahwa KPI adalah salah satu cerminan menuju rezim otoriter akan semakin bergaung dimana-mana.

Namun jangan salah, anggapan ini kini sudah menjadi angggapan lumrah ketika berbicara soal sensor (yang masih dianggap dilakukan oleh KPI oleh kebanyakan “netizen maha benar atas segala komentarnya”).

Baca juga :

Membebaskan Belahan Dada dari Sensor (?)

Sensor (Lagi), Bruh and Sis

Efektivitasnya jelas diragukan, karena nilai teguran ke talent-talent tersebut bisa saja bias. Mungkin bisa saja tidak bias ketika berkait dengan kata-kata kasar atau tindakan kasar lain yang secara umum mungkin masih disepakati secara norma. Namun, ketika misal, berkait dengan pakaian yang dikenakan dan tindakan-tindakan yang mencerminkan mengarah kepada pengekangan kreativitas, terutama jika berkaitan dengan seni dan budaya, maka teguran akan sangat subyektif.

Tak usah jauh-jauh, larangan KPI soal menampilkan manusia-manusia yang memiliki ekspresi gender yang berlawanan dengan “kodrat”, ini termasuk dalam bias, bagi sebagian pihak. Apalagi kenyataannya dalam berbagai budaya nasional kita, ada beberapa jenis budaya yang mengisyaratkan akan hal tersebut.

Dalam hal ini, jika KPI dipersiapkan untuk menegur para talent-talent secara direct, apakah KPI sudah memiliki kacamata yang pas plus dan minusnya, agar bisa melihat secara jelas apa yang mereka tegur? Ini jelas adalah tantangan KPI, ditengah arus ketidakpercayaan dan kesalahkaprahan yang diletakkan banyak lapisan masyarakat, termasuk “netizen maha benar dengan segala komentarnya”.

Namun, tanpa ada intervensi KPI sendiripun, stasiun TV sebenarnya sudah memiliki mekanisme untuk teguran kepada talent-talent tersebut. Inilah alasannya kenapa hampir setiap program acara televisi yang ada selalu mengadakan briefing dan kenapa harus ada juga rundown dalam produksi program televisi. Agar tentu saja bisa dikontrol tiap hal-hal apa saja yang bisa tayang dan apa saja yang tak bisa. Semua ini disebut sebagai salah satu tipe quality control.

Yang jadi masalah, terkadang ada hal-hal sepanjang jalannya produksi program yang suka tak bisa terkontrol dan sering dianggap sebagai bagian dari proses kreatif produksi yang ada. Hal inilah yang terkadang membuat banyak hal bisa saja terjadi dan menimbulkan teguran KPI, bahkan bisa jadi menimbulkan kecaman masyarakat secara luas, hanya karena hal-hal “sepele” yang dianggap bagian dari proses kreatif tersebut.

Pada akhirnya, lebih baikpun KPI mengurusi bagaimana teguran mereka bisa benar-benar impact terhadap industri penyiaran secara umum dibandingkan tetiba menjadi “polisi moral”. Ini masih jauh lebih penting.

 

Standar
Paradoks Media

Mengapa harus ada sebutan media anti Islam?


Pernah ga sih kesal dengan komen-komen semacam : “media anti Islam”, “media liberal”, “media antek komunis”? Sama dong kita *toss. 

Sampai hari ini, jujur saya masih heran dengan komen-komen yang muncul di sosial media yang tipe-tipenya mirip seperti itu. Entah dengan dasar apa mereka bisa komen semacam ini.  

“Alah, ngapain dipeduliin si, do. Netijen kan maha bener atas semua komennya..” 

Haha, bisa aja ga peduli. Mikir, biarin aja ah. Riak-riaknya juga muncul cuma kalau ada isu-isu yang dianggap menyinggung mereka. Kalau isinya tenang, toh mereka juga ngga bakal muncul. Mereka mungkin cuma baca artikel kalo isinya “menyinggung”. Tapi kalo ngga, boro-boro baca.  

Kenapa saya bilang gitu? Ini karena muncul komen : “wong muncul di explore saya” atau “muncul di promote”.  

*emangnya saya siapa, bisa sotoy gitu* 

Namun, saya tentu merasa bahwa ada hal yang entah kenapa mengganjal banget di pikiran. 

Media massa macam mana sih yang mereka anggap sesuai dan ngga buat mereka komen-komen semacam itu? Kayaknya hampir semua media massa pada umumnya tak pernah ada yang clean dari komen-komen semacam itu. 

Mereka biasa mengatakan bahwa “jadi media berimbang dong”. Semisal, ada berita soal aksi intoleransi yang dialami oleh kalangan minoritas, mereka ingin bahwa ada juga berita soal aksi intoleransi yang dialami oleh alim ulama dan kalangan mereka ini. Oke, mungkin memang niatan ini baik adanya, karena media massa sebenarnya harus mengutamakan keberimbangan dalam pemberitaan.  

Namun, persoalan lain mengemuka.  

Ada beberapa yang mengaku sebagai media massa. Sebagian dari mereka yang menyuarakan komen-komen semacam itu ada yang menshare link-link artikel yang berasal dari media massa tersebut.  

Media-media massa semacam ini lahir dengan memakai narasi “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, dimana mereka menggunakan narasi ini sebagai garis perjuangan mereka, lepas dari segala macam bentuk kapitalisme yang mewarnai sebagian besar media massa kita hari ini. Mereka berusaha melawan ideologi-ideologi yang dianggap “liberal” dan berbahaya, entah buat akidah, entah buat bangsa.  

Diluar persoalan bahwa media massa semacam itu tak ubahnya mirip portal opini, tidak memiliki susunan redaksi yang baik dan tentu saja tak termasuk media yang terverifikasi Dewan Pers, baik administrasi maupun faktual, ada sisi positif dari media massa semacam ini. Positifnya, ada ekspresi yang tercurah dari masyarakat yang tak terekam oleh media massa pada umumnya. Sebuah hal yang baik buat demokrasi. Namun, negatifnya adalah ekspresi yang tercurah ini, jika tak terseleksi dengan baik, sangat rawan akan munculnya hoax-hoax.  

Selain itu, media massa semacam ini juga tak jarang bermain framing, sebuah hal yang dilakukan juga oleh media massa pada umumnya. Bedanya, media massa umumnya mengarah ke mana, yang ini mengarahnya ke hal yang berlawanan. Semisal dalam isu intoleransi, jika media massa umumnya menyorot ke intoleransi yang dialami kaum minoritas, maka media massa semacam ini cenderung ingin mengatakan bahwa “intoleransi juga dilakukan kaum minoritas, dengan menguasai narasi yang ada di media massa untuk menjelek-jelekan kaum mayoritas dan menjatuhkan Islam” sambil juga mengatakan bahwa kaum alim ulama yang mereka hormati juga mengalami situasi yang sama, “namun tak pernah dikupas oleh media liberal”.   

Jadilah adu-adu framing mana yang paling banyak mewarnai populi hari ini, dan akhirnya mempengaruhi opini masyarakat terhadap suatu isu. 

Kalau ada yang mengatakan “media jangan bermain framing” tapi sering membaca media massa setipe itu yang juga (tak mereka sadari) sedang bermain framing , maka simpan saja argumenmu.

Sama saja. Ngga ada yang beda. Semua sedang main-main. 

Terus, kamu dan anda, mau baca media yang mana dong kalo sama-sama main framing gini? Kan katanya anti sama media yang framing.

Jawabannya sama membingungkannya dengan pertanyaan media massa mana yang sesuai dengan maunya mereka.  

Standar
Obral Obrol Internet

Semua soal pemblokiran Tumblr.


Pemblokiran yang dilakukan pemerintah lagi-lagi menuai perdebatan.

Setelah sekitar 2 tahun yang lalu Tumblr hampir diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pada tahun ini akhirnya Tumblr resmi diblokir atas instruksi Kominfo. Pemblokiran ini disebabkan karena tidak adanya komunikasi balasan dari Tumblr terkait dengan temuan konten pornografi yang ada di Tumblr. Selain itu, Tumblr sendiri dianggap tak memiliki fitur pelaporan konten melanggar, terutama pornografi.

tumblr

Dalam situasi ini, banyak narasi yang muncul di sosial media yang membela Tumblr dengan sejumlah alasan, dari Tumblr yang memiliki konten yang lebih banyak positifnya, para pengguna Tumblr yang selama ini tidak menemukan konten pornografi (dan sebagian dari mereka akhirnya justru malah terpancing buat mencari konten tersebut di Tumblr), sosial media yang lain banyak memunculkan konten-konten pornografi lainnya yang lebih parah (salah satu yang sering disebut : Twitter), hingga narasi-narasi “intelek” semacam pemblokiran konten ala Kominfo yang tidak efektif menangkal pornografi ataupun pemblokiran konten ala Kominfo adalah pemblokiran yang bias.

Apapun narasinya, semua rata-rata menyalahkan pemerintah, terutama Kominfo.

Memang benar adanya. Kominfo sesungguhnya seringkali kurang prudent ketika menyangkut platform yang besar. Mereka mungkin bisa saja memblokir konten blogspot ataupun konten-konten sejenis blogspot yang bisa digunakan untuk konten bokep alias pornografi dan konten penipuan berhadiah. Namun, ketika yang diblokir menyangkut platform besar, mereka seringkali main blokir tanpa mempertimbangkan adanya pro kontra yang terjadi diantara pengguna platform tersebut.

Bukan hanya sekali ini terjadi, beberapa kasus lainnya seperti Telegram dan Bigo pun juga demikian perlakuan yang dibuat Kominfo. Meskipun akhirnya kedua platform ini mengikuti ketentuan yang (dianggap) berlaku hingga blokir pun dibuka, bahkan pada kasus Bigo sampai dibuatlah kantor perwakilan untuk tim sensor konten Bigo di Jakarta.

Oke, mungkin langkah prudent Kominfo adalah dengan berkomunikasi dengan platform tersebut untuk membersihkan konten-konten yang melanggar. Namun, persoalannya justru adalah jangka waktu komunikasi dengan platform yang besar ini yang dirasa terlalu pendek.

Kenapa?

Kebetulan ini adalah pengalaman saya sendiri. Beberapa kali akun sosial media saya mendapatkan followers dari akun yang nampaknya biasa, namun semakin banyak akun semacam ini memfollow saya, justru saya mulai merasa terganggu dan ini jelas mengacaukan statistik followers saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mereport akun-akun tersebut ke platform sosial media yang dimaksud. Seringkali laporan tersebut ditanggapi hanya dalam waktu beberapa hari, meskipun kadang juga laporan tersebut ditanggapi bahkan hingga berbulan-bulan lamanya.

Ini sosial media lho. Bagaimana dengan platform blog seperti Tumblr atau yang lainnya?

Saya sih belum pernah mencoba melaporkan blog yang melanggar aturan ke masing-masing platform, namun setahu saya semua platform blog terkemuka memiliki fitur pelaporan dan informasi kebijakan kontennya sendiri, seperti Tumblr, Blogspot alias Blogger dan WordPress. Pelaporan semacam ini sebenarnya dan seharusnya sudah sesuai dengan keinginan Kominfo.

Entah dengan alasan apa Kominfo jadi saklek begitu.

Namun, apakah ini adalah kesalahan Kominfo semata?

Menurut informasi dari akun Twitter resmi Kominfo, mereka menyebut salah satu alasan adanya pemblokiran ini adalah (seperti biasa) pelaporan dari masyarakat. Jelas kita tak tahu lapisan masyarakat mana yang melaporkan hal ini dan terang-terangan membuat kontroversi luas di masyarakat, terutama bagi pengguna dan pembaca blog Tumblr.

Namun, jika asumsi dan teori ini benar adanya, maka asumsi kurangnya pemahaman teknologi yang masih mewarnai pengguna internet Indonesia yang menurut data terakhir yang dilansir APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2017 berjumlah 143,2 juta penduduk masih menjadi benar adanya.

Padahal, pemahaman atas teknologi yang benar, termasuk juga mengenal fitur-fitur kecil seperti fitur report yang rata-rata sudah disediakan banyak platform media sosial, blog ataupun platform komunitas lainnya, adalah kunci untuk meminimalisir kasus-kasus semacam ini.

Dalam tulisan ini, saya tentu saja tak bermaksud mengatakan bahwa semua pengguna teknologi dan internet di Indonesia kurang paham akan hal-hal printilan semacam fitur report ini. Banyak yang sudah menyadari soal hal-hal ini, namun tentu saja persoalan yang terjadi masih banyak : membangun awareness banyak lapisan masyarakat terhadap hal-hal printilan tersebut dan tentu saja soal kendala bahasa, dimana kebanyakan fitur report yang disediakan masih menggunakan bahasa Inggris yang tak banyak dipahami masyarakat Indonesia.

Saya juga tak sedang mengatakan bahwa dengan memprotes pemblokiran ini, saya juga setuju akan konten-konten negatif. Yang jadi persoalan adalah tentang teknik dan mekanisme yang diberlakukan pemerintah. Sambil tentu saja membangun awareness masyarakat untuk lebih menyadari dan menggunakan fitur-fitur printilan dalam teknologi yang digunakannya sebagai salah satu cara untuk menangkis konten negatif tanpa perlu menurunkan kuasa dan energi dari pemerintah secara berlebihan.

Oke, perlu diakui adanya inisiatif masyarakat untuk terus melaporkan konten negatif dengan berbagai cara ke Kominfo perlu diapresiasi dengan baik. Namun, tentu saja pemerintah harus punya energi yang cukup buat melakukan seleksi, apalagi jika menyangkut platform yang memiliki jumlah pengguna yang banyak.

Standar
Sosok dan Media

Mereka yang “Ramai” Soal Televisi


Kepopuleran televisi (sementara) memang tiada tanding. Bahkan, meskipun sosial media dan Youtube menjamur.

Beberapa waktu yang lalu, ditengah kesenggangan waktu yang ada, saya mengikuti “kopdar” alias kopi darat (alias ketemuan) dengan beberapa teman-teman yang sebelumnya saya kenal karena sosial media. Teman-teman ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada yang masih sekolah, ada yang kuliah dan ada juga yang sudah bekerja.

Perkenalan dengan perantara sosial media ini bukan tanpa ada wadah. Saya bergabung dengan sebuah grup Facebook yang lebih dikenal sebagai davenirvana1 World. Saya dan mereka adalah bagian dari grup ini.

Bagi pembaca yang membaca e-book saya “IniKritikGue dan Kotak Imaji”, mungkin sudah pernah mendengar nama davenirvana1 ini. Namun, bagi yang belum, saya perkenalkan siapa dan apa ini davenirvana1.

Davenirvana1 ini adalah nama blog, yang kira-kira kayak jaman dulu saya pakai nama rinaldo92aldo Blog sebelum ketemu nama IniKritikGue sekarang ini. Nama empunya blog ini, adalah Dave Nirvana. Sama dengan nama blognya. Mas Dave ini bekerja di dua medium berbeda di industri media, radio dan televisi di Malang, Jawa Timur. Blog ini punya segmen yang sama dengan IniKritikGue : membahas pertelevisian, meski blognya beliau ini hadir lebih awal dari saya, yaitu dari tahun 2011.

davenirvana1 world

Karena ramainya blog ini dengan antusiasme yang banyak, akhirnya brand davenirvana1 ini berkembang menjadi sebuah grup Facebook dengan nama davenirvana1 World. Saya bergabung disini pertama kali sekitar tahun 2013, meski kemudian saya sempat keluar karena berganti akun Facebook dan masuk kembali hingga hari ini.

Mengenai kopdar, beberapa kali anggota-anggota grup ini sudah sering melaksanakannya, meskipun ada kopdar yang hanya dilakukan dalam jumlah yang sedikit, minimal 2 orang. Kopdar ini tidak ditentukan harus berkumpul dimana, dalam artian jika ada kopdar “lokal” (semisal ada si A kebetulan berkunjung ke kotanya si B yang sesama anggota grup), maka dipersilahkan membawa “bendera” davenirvana1 World.

Namun, kopdar yang saya ceritakan diawal ini adalah kopdar grup pertama saya. Sebelumnya, sudah ada tawaran ke saya untuk ikut kopdar, namun saya berhalangan hadir karena waktu yang tidak memungkinkan. Salah satu kopdar yang cukup “meriah” di grup adalah ketika ada Indonesia Broadcasting Expo yang diselenggarakan di Jakarta beberapa tahun lalu.

Saat kopdar yang saya ikuti ini terjadi, ada 10 orang yang berkumpul. Selain saya, ada mas Rifqi dan mas Adhitya yang baru ikut kopdar. Sisanya, sudah cukup sering ketemuan.

Diskusi yang terjadi didalam grup umumnya berkenaan soal televisi, meski terkadang ada juga media lain yang dibahas . Pembahasannya macam-macam, mulai dari soal desain grafis dan panggung ulang tahun stasiun TV, hal-hal unik di televisi, program televisi era jadul hingga soal kritikan tajam. Sampai tulisan ini dibuat, sudah ada lebih dari 100 anggota yang bergabung.

….

Era new media saat ini, memang tak bisa menggeser sepenuhnya popularitas televisi (meski harus diakui yang apatis dan anti dengan televisi juga berimbang dengan popularitas medium yang satu ini).

New media yang membahas soal televisi setidaknya bisa diklasifikasikan menjadi dua : akun yang jadi promosi program televisi (kemudian melebar ke diskusi soal televisi) dan forum/komunitas diskusi. Contoh yang pertama adalah akun-akun yang bermunculan di Facebook, Twitter dan Instagram, seperti @dunia_tv dan @sinetron_indonesia. Sementara, contoh yang kedua adalah davenirvana1 World dan Dunia TV di Facebook serta Lautan Indonesia (LI) (ini belum termasuk dengan forum lain yang membuat diskusi/thread soal televisi seperti Skyscrapercity).

duniatv

Saya kebetulan pernah bergabung dan aktif di Dunia TV dan LI, meskipun dengan satu dan lain alasan saya tak lagi aktif di keduanya. Bahkan, di grup Dunia TV, saya telah lama keluar dari grup ini.

Yang unik, salah satu grup diskusi yang saya sebut, yaitu Lautan Indonesia, tadinya adalah forum yang beraffiliasi dengan Indosiar. Namun, kini Lautan Indonesia sudah berdiri independen dan tidak terkait dengan Indosiar lagi. Forum ini membahas banyak hal seputar televisi (semua stasiun TV tentu, meski fokus utama tentu saja grup televisi MNC, Emtek dan Bakrie/VIVA), sinetron, drama India, drama Korea hingga drama Mandarin, dan juga berbagai topik-topik umum lainnya.

Keunikan forum LI lainnya adalah, forum inilah yang jadi sumber data rating TV yang bermunculan di beberapa akun Twitter, Facebook dan Instagram yang membahas soal program televisi (nama akunnya sudah saya sebut tadi).

lautanindonesia

Dengan semakin semaraknya diskusi yang ada soal televisi di new media alias internet, maka ini seharusnya jadi kesempatan buat stasiun TV untuk lebih dekat dan memahami preferensi yang diinginkan pemirsanya terhadap stasiun TV bersangkutan.

Secara kebetulan, dalam grup davenirvana1 World, ada beberapa orang yang ada di industri pertelevisian hari ini yang bergabung. Salah satunya, ada ibu Limi alias ibu Maria Goretti Limi yang kini berkantor di Kompas TV. Beliau ini dulu pernah jadi direktur di sejumlah stasiun TV dan media massa lain serta direktur utama RTV (kalau pernah baca artikel saya soal RTV di tahun 2014 lalu, pasti pernah baca nama beliau ini).

Namun, agak disayangkan hingga hari ini adalah langkanya orang-orang pertelevisian yang mau membuka diri terhadap komunitas/grup terkait televisi, yang menjadikan salah satu faktor mengapa suara-suara pemirsa agak sulit terdengar dan “menghentak” orang-orang dalam industri jika ada program mereka bermasalah (kecuali kalau viral, wkwk).

Salah satu hal yang disorot dalam kopdar davenirvana1 World di Jakarta yang saya ikuti ini adalah soal fanatisme buta fans-fans stasiun TV.

Ternyata bukan hanya soal bola, agama dan politik saja yang fanatis. Bahkan, sampai selera program televisi pun, fanatismenya minta ampun. Rasanya hanya diskusi soal porno saja yang adem ayem dan seirama, eh. Forum diskusi soal televisi yang dibuka lebar di new media bukannya tidak ada dampak negatifnya. Justru, membuka ruang yang lebar akan adu fanatisme.

Bisa dibayangkan kalau dalam grup diskusi, ada fans sinetron A sekaligus aktor B berdebat dengan fans sinetron B dengan aktor A, berdebat mana jalan cerita yang paling beres dan nyambung dan akting aktor mana yang paling cihuy. Atau, fans stasiun TV C debat dengan fans stasiun TV D, berdebat mana yang paling jago soal strategi programmingnya dan soal rating-share yang naik turun. Debat-debat semacam ini bisa dikatakan hampir tak memiliki feedback apapun kepada stasiun TV atau program TV yang disuka.

Selain heboh akan perdebatan, ada saja pihak-pihak yang menyatakan fanatismenya dengan cara yang cukup lebay. Seperti, menggunakan desain grafis program stasiun TV lain untuk “memberikan saran” kepada program stasiun TV yang disuka. Bisa dibayangkan hak cipta yang telah dilanggar oleh orang ini.

Bahkan, saking fanatisnya, mereka sampai menyebarkan informasi hoax yang terkait dengan satu stasiun TV tertentu. Seperti yang pernah heboh adalah kabar pengalihan lisensi Nickelodeon di Indonesia dari GTV ke Indosiar-SCTV. Buktinya, sampai hari ini Nickelodeon tidak dibeli lisensinya oleh Indosiar dan SCTV, dan mereka berdua tetap dengan segmennya masing-masing sebagai televisi dangdut dan televisi sinetron. Kabar hoax ini bukan hanya beredar di grup diskusi, bahkan Wikipedia pun divandalisme (dikacaukan/”dirusak” isinya) oleh orang-orang ini.

duniatvinstagram

Bisa dibayangkan kesalahan ini memanjang. Semisal contoh kasusnya adalah ketika seorang akademisi Ross Tapsell dan portal berita Tirto.id mengutipnya, dalam hal Elshinta yang dianggap masuk grup Emtek/Keluarga Sariaatmadja, padahal jelas-jelas Elshinta bukan termasuk grup ini.

Situasi-situasi semacam inilah yang mengganggu kondusifitas grup diskusi. Pada beberapa grup, memang tidak ada peraturan spesifik soal ini. Bahkan, situasi semacam ini seperti nampak disengaja untuk dibiarkan. Padahal, fanatisme yang seperti ini menghalangi adanya feedback membangun untuk stasiun TV bersangkutan, yang bisa saja memanfaatkan komunitas/grup diskusi ini sebagai bahan amatan kecil-kecilan sebelum mengeksekusi suatu strategi tertentu.

Tentu selayaknya fans, wajar kalau mereka menggemari stasiun TV tertentu. Namun, selayaknya fans-fans di topik lain, dari K-Pop sampai politik, para fans ini semestinya memang harus belajar membuka diri terhadap pendapat yang berbeda. Mereka tak bisa sepenuhnya fanatik, apalagi sampai membuat hoax atau melanggar hukum. Yang sedang-sedang saja.

Tapi, orang-orang semacam ini pasti ada dan selalu ada. Semua karena anonimitas yang dijunjung internet.

Grup diskusi soal televisi memang tak sesemarak grup diskusi soal politik, teknologi, gaming atau soal-soal lain. Namun, adanya grup diskusi soal televisi, sekali lagi membuktikan adanya kekuatan yang masih ada di televisi ditengah kuatnya pengaruh new media hari ini.

Standar
Sosial Masyarakat

Kelana Episode 10 : (Kembali) Soal “Kapan Nikah” dan Laki-Laki


“Kapan nikah?”

Ya, pertanyaan paling “menyebalkan” abad ini versi para warganet (terbukti dari banyaknya artikel yang rilis soal hal ini) muncul juga di komentar foto saya di Instagram. Padahal, pertama saya laki-laki dan yang komen juga laki-laki, kedua komentar ini muncul di foto diri saya dan captionnya juga tak mengarah ke arah sana, apalagi berbicara soal percintaan.

(((Memang sih, tahun lalu saya cukup sering mengeluarkan “prosa” soal percintaan di Instagram sebagai caption saya, namun ngga ada yang saya rasa mengarah ke soal pernikahan))). Bahkan, ada satu caption saya yang agak menyindir soal niat “adu-aduan” dibalik pertanyaan ini.

Suatu ketika, hati ini akan bertaut dengan pilihanku. Ya, pilihan yang semoga alam semesta dan alam ghaib (kata Tukul Arwana) merestuinya. Pilihanku ini sebenarnya sederhana. Tapi, pestanya yang tak sederhana. Kadang, hanya perlu sedikit sentuhan agar tetap terlihat sederhana, sesederhana aku dan kamu bersatu. Meski, aku tahu hal yang tak sederhana adalah pencitraan dan gengsi mereka-mereka yang sering akui sebagai kaum borjuis dan perlente. Kadang, kita akan berkhayal ini dan itu dalam hubungan kita. Hal yang kemudian sebagian tak terjadi di hidup kita, karena satu dan lain hal. Namun, bisalah kita terus berkhayal, kan? Aku sebenarnya tak menuntut macam-macam. Aku juga tahu kau juga demikian. Namun, kita hidup dalam dunia kapitalis yang kadang-kadang bikin kita pusing seribu keliling. Kebahagiaan kita hanya ditentukan oleh kapital, prestasi mendapat anak secepat-cepatnya dibandingkan saudara atau teman kita, atau… Ah, kau kira aku ini sok idealis? Tidak juga. Kau tahulah, aku hanyalah proletar sejati yang berusaha jadi khalifah buat aku dan keluarga kita disini. Namun, apa yang jadi kebahagiaan kita, bisakah kita tentukan sendiri? Memuaskan orang-orang tak akan pernah habis. Mereka hanyalah pihak yang tak tahu apa yang kita rasa. Mereka sibuk buat standar. Seakan standar adalah target. Seakan target sama dengan penghargaan. Duh. #sastra #untaiankata

A post shared by @ rinaldoaldo92 on

//www.instagram.com/embed.js

In fact, ada teman-teman seangkatan saya di sekolah saya dulu ada yang sudah melangkah menuju pernikahan. Umur mereka kira-kira hampir sama dengan saya (tahun ini saya masuk 2 dekade alias 20 tahun). Yang saya ketahui, ada 1 perempuan dan 2 laki-laki yang sudah menikah dengan pasangannya masing-masing. Jujur, saya sendiri memang tak dekat dengan mereka ini, namun mendengar kabar ini, agak membuat saya terkejut. Apalagi, mendengar fakta bahwa ada yang sudah menginginkan jauh-jauh hari menikah setelah lulus SMK.

Hm?

Ya, tentu disini saya sebenarnya tak berniat buat “menggugat” pilihan hidup mereka, termasuk untuk menikah itu sendiri. Semua kembali kepada individu masing-masing.

Tapi, kalau boleh jujur (entah mungkin juga pergaulan saya kurang besar), saya jarang menemukan pertanyaan “kapan nikah” buat lelaki terdengar.

Baca lebih lanjut

Standar
Konten dan Program TV, Paradoks dan Televisi, penghantar, Trans 7, Transmedia

Kasus “Misteri Rumah Tjong A Fie” dan Apa yang Mesti Disorot


VIRALKAN!

Screenshot 20180205 045340

Pesan bernada tegas ini muncul dalam grup chat Line saya. Wih. Ini apaan yang disuruh viral?

Ternyata, ada screenshot dari Instastories seseorang yang dimasukkan kedalam status Line. Isinya, kesal karena sebuah program TV melecehkan sejarah dari seorang tokoh keturunan Tionghoa yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Nama tokohnya : Tjong A Fie. Jadi, program TV ini menganggap rumah peninggalan beliau (Tjong A Fie Mansion) sebagai rumah “berhantu” dan dianggap dalam proses produksinya tak berizin dari keluarga besar.

Setelah ditelusuri, screenshot ini berasal dari seseorang dengan nama akun Instagram mas @riccocheza.

Screenshot 20180205 043343

Dalam Instastories berserial (hingga tulisan ini dibuat masih dipajang di Instagram yang bersangkutan), dia yang mengaku sebagai bagian dari keluarga besar beliau ini merasa sangat tersinggung karena hal tersebut. Saking tersinggung, ia sampai salah memention akun stasiun TV yang dipermasalahkan. Kesalahan ini muncul, karena terpeleset dengan kesamaan nama. Padahal dalam screenshotnya sudah jelas stasiun TV mana yang bermasalah.

Program TV yang dimaksud adalah program FTV Kisah Nyata di Trans 7. Sementara yang dimention adalah Trans TV. Belakangan, ia mengkoreksi hal tersebut, meski kenyataannya para warganet yang ikut emosi terhadap hal tersebut masih menyebut program ini di Trans TV.

Screenshot 20180205 043352

Pada grup chat Line tempat saya “ikutan”, diskusi cenderung mengarah kepada branding kedua stasiun TV satu grup ini yang nampak “tak menjelaskan differensiasi/perbedaan diantara keduanya”, sehingga orang cenderung mengatakan bahwa semua program Trans 7 adalah programnya Trans TV, bahkan saat-saat kalut bin emosi seperti kasus ini. WEDEW ~

Pada saat tulisan ini dibuat, sudah ada klarifikasi dari pihak rumah produksi pembuat FTV ini, hingga dilakukan kunjungan ke keluarga besar Tjong A Fie dan disepakati bahwa akan ada “judul FTV” yang akan mengklarifikasi jalan cerita dari tokoh dan pengusaha lokal tersebut.

Dalam tulisan ini, kira-kira saya mau menyoroti dua hal.

Tuntutan

Dalam kolom komentar, banyak warganet – termasuk teman-teman mas @riccocheza – yang menuntut agar kasus ini bisa dibawa ke ranah hukum. Hanya sebagian kecil yang menyeret ini ke KPI dengan tuntutan agar dicabut izin siarnya dari Trans 7 ini sendiri.

Saya kemudian mencoba buat nimbrung didalam kolom komentar dan memberikan beberapa komentar saya. Salah satu komentar saya rupanya membuat beberapa orang menganggap saya meremehkan kasus ini. Komentar saya ini sempat saya kutip di artikel saya yang ini (buat yang sudah baca tulisannya, kini ngerti kan yang saya maksud : “Ceritanya, ada sebuah kasus soal pertelevisian yang baru-baru ini viral dan membuat saya ikut mengomentarinya”).

Intinya, saya berharap agar teman-teman yang memprotes dan marah ini jangan cuma marah-marah dan mengadukannya sampai ke pihak berwajib dan KPI hanya kalau viral semacam kasus ini, tapi diam dan tak bergeming melihat program televisi lain yang buruk secara kreativitas dan variasi. Saya menganggap case ini sebagai titik balik agar masyarakat sadar dan mampu menjadi pemirsa cerdas.

Screenshot 20180205 043440

Nah, mereka menyoroti pada frasa yang saya beri tebal. Mereka menganggap saya meremehkan kasusnya. Padahal, saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau dari paragraf tersebut, saya sebenarnya sedang mengajak orang-orang ini agar jangan terlalu emosi pada satu kasus di televisi, tapi kemudian diam jika ada kasus lainnya di televisi yang kini kebanyakan sama parahnya dengan kasus ini. Ini karena berdasar pengalaman saya, banyak orang yang tetiba mengkritik televisi ini dan itu, namun hanya heboh saat viral semata.

Habis viral? Ya udah diam. Balik lagi ke kesibukan masing-masing. Ke kasus-kasus viral lainnya.

Kalau begini, stasiun TV akan dan tetap masih meremehkan kekuatan penonton.

(page 1/3)

Saya sudah mengklarifikasi dan tentu saja meminta maaf kalau memang hal ini dirasa tidak tepat, meski menurut saya mereka cenderung “memotong” maknanya (meski saya akui juga salah disisi saya, memang momen dan cara counter saya tidak tepat). Setelah permintaan maaf, ada satu warganet yang masih menyoroti juga, meski kemudian ditengahi oleh empunya kolom komentar alias yang punya akun. (((Terima kasih mas @riccocheza, btw))).

Saya mengatakan bahwa : silahkan saja warganet atau keluarga besar beliau ini melakukan aksi lebih lanjut terkait hal ini. Saya sama sekali tak melarang (dan dari kalimat yang ditebalkan tersebut menurut saya juga tak ada concern ke arah melarang). Ini sah. Saya tak ada masalah soal ini. Namun, karena kasus yang sudah-sudah, saya tak ingin kasusnya jadi seakan tidak ada hikmahnya buat semua pihak, terutama masyarakat. Sehingga akan muncul kasus berulang dan berulang

Hmm. Oke, mereka sedang emosi dan saya memahami hal itu.

Tapi, yang satu yang ingin disorot disini adalah soal tuntutan mereka untuk mencabut izin siar oleh KPI.

Berdasarkan Peraturan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) KPI tahun 2012, sanksi yang diatur adalah :

  • teguran tertulis;
  • penghentian sementara mata acara yang bermasalah setelah melalui tahap tertentu;
  • pembatasan durasi dan waktu siaran;
  • denda administratif;
  • pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu;
  • tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran; atau
  • pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran.

Sebenarnya, secara logis, tentu saja kalau kita menuntut agar langsung main ke poin f dan g, ini tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Kalau bermain di poin f dan g, itu baru terjadi kalau pelanggaran yang ada sudah berat dan tentu saja sudah tak bisa ditolerir lagi. Istilahnya, sudah terakumulasi alias sudah banyak.

Tentu kita mafhum kalau semua ada step by step dan tak bisa langsung jebret begitu aja.

Namun, citra yang sudah-sudah mengatakan bahwa KPI cenderung masih bermain hingga poin a-b. Bahkan, menurut Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP) seperti dikutip dari tempo.co, “KPI banyak memberikan pembinaan, peringatan, dan imbauan, tiga bentuk yang tidak termasuk sanksi administratif sesuai UU Penyiaran dan P3 & SPS,” . Untuk beberapa pelanggaran berulang terhadap program televisi yang sama, bahkan sanksi administratif diatas tak dijalankan dengan benar.

Jadi, memang untuk menuju ke titik f dan g, sayangnya untuk televisi lokal, masih belum berlaku tuh. Yang pernah sampai ke titik ini adalah stasiun TV asing yang tayang di pay TV, TV5 Monde Asie.

(page 2/3)

Riset dan Izin

Yang unik, dalam surat pernyataan yang disampaikan Produser MAX Pictures (rumah produksi yang membuat FTV ini), Ody Mulya Hidayat, mereka menyebut bahwa “semata-mata ketidaktahuan kami terhadap sumber-sumber yang harus dihubungi”. Hm.

Screenshot 20180205 043406

Judul FTVnya adalah “Misteri Rumah Tjong A Fie”. Dari sini, sudah jelas bahwa sebenarnya yang coba mereka kupas adalah Tjong A Fie Mansion yang menjadi salah satu situs bersejarah bagi warga Medan yang cukup sering dikunjungi banyak pihak dan masuk media massa. Sehingga, memang agak aneh kalau mereka mengatakan bahwa sumber-sumber yang harus dihubungi tidak ada.

Apakah ini hanya sekedar alibi? Entahlah. Tapi, patut diapresiasi juga untuk MAX Pictures yang mau menanggapi soal viralitas kasus yang menimpa FTV yang mereka produksi.

Ngomong-ngomong, jadi inget nih. Kasus semacam ini yang dulu sempat viral adalah ketika program Katakan Putus Trans TV (wkwk, kok kebetulan sih) memakai sebuah rumah yang dianggap tak berizin oleh pemilik rumah, dan “hanya membayar izin kepada asisten rumah tangga yang berjaga”. Sudah tak berizin, sang pemilik rumah juga mencap program ini sebagai rekayasa (meski memang cap ini sudah perlahan terkuak : adanya selebaran casting program ini di sebuah tempat yang terlanjur beredar di sosial media – sayang kelupaan discreenshot).

Agaknya, persoalan tentang riset dan perizinan di industri pertelevisian memang menjadi sebuah masalah yang tiada usai. Entah kenapa saya menganggap industri pertelevisian masih meremehkan keduanya. Riset yang nampak seadanya, perizinan dan hak cipta yang kadang amburadul. Seakan riset dan perizinan bisa kalah dengan proses yang sering dinamai “kejar tayang” produksi program yang kian hari kian sibuk saja.

Mungkin ada yang sudah menerapkan riset dan perizinan yang baik. Sudah juga menghargai hak cipta karya orang lain yang dipergunakan sebagai footage dari tayangan mereka. Namun, kebanyakan masih meremehkan hal ini dalam SOP produksi. Mereka lebih menguatkan pen

Jika terkait dengan rumah produksi atau program yang berasal dari pihak ketiga, stasiun TV seperti nampak lepas tangan dari program pihak ketiga ini, termasuk pada kasus yang dialami oleh Trans 7 ini. Sehingga, stasiun TV tidak menerapkan standar produksi yang sesuai dengan kebijakan dan budaya yang dianut oleh stasiun TV bersangkutan. Hubungan keduanya hanya soal akuisisi/jual beli dan soal strategi programming. Tapi, stasiun TV tak mengontrol produksinya (setidaknya pada tahap quality control) dan menerapkan standar produksi dan etika yang sama.

Sebenarnya, langkah mengontrol program pihak ketiga – terutama program drama – sudah dilakukan stasiun TV kita. Dulu, Trans TV dengan program FTV “Bioskop Indonesia” yang bekerjasama dengan beberapa rumah produksi ikut melakukan produksi FTV dan juga menerapkan standar produksi yang sesuai dengan brand Trans TV. Produksi FTV ini dilakukan dibawah divisi Film, Drama dan Sport. NET, juga melaksanakan produksi dengan gaya seperti ini pada program dramanya, dimana ada “intervensi” dari stasiun TV dalam produksi program. Program Kesempurnaan Cinta serta Cinta dan Rahasia menjadi contohnya.

Dengan kontrol semacam ini, selain menguntungkan secara strategi programming, juga tentu saja memudahkan transfer standar produksi dan etika yang sesuai. Rumah produksi jadi dibiasakan untuk tak asal memproduksi, namun juga mengikuti gaya kerja dari stasiun TV.

Memang, semua tergantung stasiun TV. Stasiun TV punya cara kerjanya sendiri-sendiri yang berbeda dan tak bisa disamakan. Namun, stasiun TV setidaknya jangan benar-benar lepas tangan soal riset, perizinan dan juga soal standar produksi. Mereka mau tak mau harus melaksanakan quality control yang ketat dan tak bisa sembarangan dalam produksi. Meskipun timeline produksi ketat, namun ada aturan yang tetap mengikat mereka.

Jangan sampai, persoalan semacam ini sampai persoalan program Dahsyat yang “melecehkan” tentara dengan gamesnya yang viral itu terus terulang, hanya karena soal kejar tayang dan timeline ketat.

Semua gambar disini berasal dari Instastories dari @riccocheza dan capture dari akun instagram MAX Pictures.

(page 3/3)

Update
Screenshot_20180214_022814

Standar