Eksistensi Radio

#RadioGueGaPernahMati, Pledoi Soal-Soal Radio


Curhat yuk soal kecepatan internet kamu dan anda di Surveinya IniKritikGue jilid 2. Klik sekarang di s.id/surveinyainikritikgue2. Terima kasih.

Hari Senin kemarin, pas kebetulan bangun dari tidur selama 4 jam karena hampir bergadang sepanjang malam (dari sepertiga hingga dua per tiga malam), secara iseng saya menyalakan radio FM di smartphone yang saya pegang. Saat kemudian seorang penyiar radio mengatakan “ada sebuah sejarah penting radio”, saya ingat kalau sejak Sabtu lalu media sosial milik sejumlah stasiun radio Jakarta menginformasikan adanya sebuah “kejadian bersejarah”.

Waktu yang dinanti pun tiba. Pukul 07:55 WIB, stasiun radio yang saya dengar melakukan “sign off”. Tiba-tiba suara dari radio menghilang. Tak butuh waktu beberapa lama, pukul 08:00 WIB, siaran radio kembali menyala. Terdengar suara pak Presiden kita, alias pak Jokowi yang berbicara :

“Emang enak nggak ada radio. Saya Joko Widodo, pendengar radio,”

Emang enak nggak ada radio. Saya Joko Widodo, pendengar radio. Kalau kamu? Video: Biro Pers Setpres

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js
Ya, memang ini tak lain dan tak bukan adalah projectnya PRSSNI alias Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia DKI Jakarta, menyambut hari radio internasional yang jatuh di hari Senin, 11 Desember lalu. Semua stasiun radio swasta di Jakarta melakukan “sign off” di waktu yang hampir bersamaan, meskipun ada yang hanya berdurasi 5 menit dan ada yang 15 menit. Kebetulan stasiun radio yang saya ikuti memilih durasi 5 menit.

Jelas, yang bersiaran saat itu hanya RRI alias Radio Republik Indonesia (yang notabene dipunyai pemerintah) dan stasiun radio di kota-kota penyangga Jakarta. Namun, stasiun radio di Jakarta yang saat itu saya deteksi masih bersiaran di waktu tersebut adalah Woman Radio 94.3 FM. Saya kurang paham juga mengapa demikian.

Di sosial media, muncul kemudian posting yang digencarkan oleh stasiun radio yang berpartisipasi soal #RadioGueMati dan semacam “permohonan” agar radio bisa bersiaran lagi. Meski tak lama kemudian muncul hastag baru #RadioGueGaMati. Ya, hastag terakhir inilah yang hingga pantauan saya pada malam Selasa masih tetap jadi trending topic di sosial media.

Masyarakat awam umumnya berpendapat terkejut dan heran saat “sign off” tiba-tiba terjadi. Mereka ini kemudian berpendapat soal hal tersebut dan menghebohkan jagat maya saat itu. Secara umum, target project “gimmick” ini akhirnya berhasil, memicu para pendengar radio buat “keluar”, terutama di sosial media, yang ikut diramaikan oleh para penyiar dan insan radio.

Saat itu, saya dan beberapa teman di jagat maya berdiskusi hangat soal hal tersebut dan kami mengakui kalau “gimmick” ini efektif. Ya, efektif dengan rasa kejut yang lumayan juga.

Sebenarnya, kebingungan soal “gimmick” ini terjadi sejak stasiun radio di Jakarta sudah mulai mempublish posting soal “gimmick” ini di sosial media. Apalagi kenyataannya yang mempublish bukan hanya satu grup radio tertentu, namun juga oleh semua grup radio. Sampai akhirnya diketahui bahwa ini adalah project PRSSNI DKI Jakarta.

Terus terang, tak semua mengatakan hal ini efektif. Para manusia-manusia maya yang mengaku sebagai “digital ” umumnya mempertanyakan ketidakefektifan gerakan “sign off” bersamaan ini. Apalagi, gerakan “sign off” ini dilakukan ketika dunia digital “menyerang” sendi dan nadi masyarakat serta Spotify dan Joox yang makin banyak digunakan para pengguna bus Transjakarta yang beberapa waktu yang lalu sempat bekerjasama dengan Motion Radio 97.5 FM Jakarta.

https://platform.twitter.com/widgets.js

https://platform.twitter.com/widgets.js

https://platform.twitter.com/widgets.js
Yang unik, yang berkomentar dan mempertanyakan ini, salah satunya eks penyiar radio. Bekas partnernya Dagienkz di program paginya Motion Radio beberapa tahun yang lalu.

https://platform.twitter.com/widgets.js

https://platform.twitter.com/widgets.js

Iya sih. Memang now adalah digital. Lupakan masa lalu. Move on dong. Iklan bisa didapat dari podcast pak bu. Mending podcast, mending streaming. Suka suka orang dong, mau Spotify atau radio.

Oke. Saya mungkin sudah mengungkapkan dalam beberapa artikel saya soal penetrasi media massa di Indonesia, dimana pada beberapa postingan saya yang lalu saya lebih banyak membahas ini dalam konteks media cetak, yang memang dlam beberapa waktu terakhir menghadapi cobaan yang berat.

Namun, bagaimana dengan radio?

Saya pernah bercerita tentang industri radio yang belakangan isinya sama terus. Saya menuliskannya dalam 3 artikel yang berbeda. Memang, ini sudah jadi keluhan saya sejak lama. Kok masa iya sih semua stasiun radio feelsnya hampir mirip semua? Ini apaan nih?

Baca juga :

Rebranding, Radio dan Internet

The All New dan Radio..

Persaingan Radio, Lebih Kejam dari Ibu Tiri?

Sejak Gen FM terbilang sukses di tahun-tahun awalnya bersiaran (2008-2009), memang sejak saat itu stasiun radio yang tiba-tiba mengikuti jejaknya doi. Meskipun menyasar segmentasi yang berbeda-beda satu sama lain, jualan mereka kalau tidak penyiar public figure di pagi dan sore, ya lagu-lagu baru yang terus diupdate, baik lagu dari Billboard top 100 ataupun lagu Indonesia. Dengan mengikuti jejaknya doi, mereka menamakan diri hal tersebut sebagai The All New dan istilah-istilah lain yang menggambarkan kebaruan. Agak aneh sih, jujur.

Meskipun demikian, semakin lama menyelami, saya akhirnya paham mengapa mereka demikian. Alasan klise yang sangat mirip dengan televisi: iklan, bosque. Belanja iklan radio, dikatakan hanya 1% dari keseluruhan belanja iklan yang tersedia. Per semester I 2016 lalu, belanja iklannya hanya Rp 57 Miliar. Mayoritasnya? Of course, televisi dengan Rp. 103.8 Triliun di tahun 2016 lalu.

Dengan jatah yang “sempit” mereka mencoba untuk meraup pangsa pasar yang besar sebagai upaya mewujudkan kenaikan pendapatan sales radio. Upaya yang dilakukan bermacam-macam, dari masuk ke strategi program, hingga akuisisi stasiun radio. Di Jakarta, aksi akuisisi yang dilakukan oleh Mahaka Radio terhadap 3 stasiun radio eks Ramako menjadi salah satu upayanya.

Pemain baru, ikut menambah “kesempitan” jatah tersebut. MPG Media milik Denise Tjokrosaputro sejak 2 tahun lalu masuk ke industri radio Jakarta dengan mengakuisisi Urban RKM dan menjadi Smooth FM 99.5. Pada tahun 2016, MPG menambah stasiun radio dengan mengambil “franchise” nama Virgin Radio dari Virgin Group milik pengusaha Richard Branson, dan menjadi jaringan Virgin Radio yang sudah merambah di sejumlah negara Asia Pasifik dan Eropa.

Ya, alasan yang sangat-sangat klise. Sekaligus jawaban yang sangat tidak memperlihatkan upaya distrupsi ala pak Rhenald Kasali.

Namun, meski hal ini menjadi sebuah pemikiran yang agak menggelitik dan mengherankan, saya tetap menjadi pendengar radio. Sejak mengenal radio di tahun 2010 lalu, saya memang masih mengamati radio, meskipun memang harus berbagi tempat dengan televisi yang sudah menjadi bagian dari hidup saya sejak kecil.

Saya tetap masih menyukai siaran-siaran radio dan akan selalu terkenang oleh medium yang satu ini, apalagi kalau ingat saat-saat sulit dulu di keluarga saya, sebagai penghibur ada perangkat radio warisan milik almarhum kakek saya yang bisa dikatakan sudah langka jaman sekarang, salah satunya karena ada pilihan frekuensi SW alias Short Wave, dimana stasiun radio yang menempati frekuensi ini adalah stasiun radio internasional seperti BBC, VOA atau Deutsche Welle. Sayangnya perangkat radio ini sudah rusak dan sudah hilang entah kemana.

Saya menulis ini, bukan berarti saya menolak sama sekali perubahan di industri radio atau tidak menggunakan hak saya sebagai “pemilik frekuensi” – karena frekuensi radio juga milik publik, sama seperti frekuensi yang digunakan televisi bersiaran ataupun frekuensi radio yang digunakan ISP tempat saya bekerja – dan pasrah “dikangkangi” kapitalis dengan segala kepentingannya atau pihak-pihak tak bertanggung jawab lain yang menggunakan frekuensi secara ilegal.

Saya juga tak mengatakan mereka yang memilih digitalisasi salah dan mencela mereka habis-habisan “sok digital lu” – wong saya kerja di industri beginian, nulis artikel di dunia digital juga. Saya juga tak menyangkal bahwa akan ada masa depan yang mengejutkan di industri ini. Bisa podcast seperti kata bu Miund di Twitter tadi. Bisa juga dengan cara lain.

Toh, PRSSNI juga sebenarnya nampak menyadari hal ini. Mereka merilis iklan layanan masyarakat soal hasil survei Nielsen dan Pew Research Center soal naiknya angka pendengar radio streaming di Amerika sana yang mencapai 53%.

Namun demikian, saya agak heran ketika banyak orang yang berkata dan hakul yakin bahwa radio akan mati.
Yang jadi masalah, bukan masalah menolak perubahan atau memaksakan selera orang, namun soal bagaimana perspektif radio ini dipakai oleh mereka. Kebanyakan mereka menganggap radio hanyalah sebagai sebuah benda yang bisa “dibuang”. Padahal, radio, apapun jenisnya, tak akan pernah mati.

Kenapa? Yang kebanyakan orang sorot jika berbicara soal ini adalah kematian brand, kematian konsep, kematian bisnis. Bukan kematian radionya sebagai sebuah medium. Medium, saya anggap kekal karena medium tak hanya soal frekuensi radio yang sama kekal seperti air dan tanah. Medium adalah prinsip. Yang berubah, yang mati adalah perspektif, brand dan pemikiran. Toh prinsipnya sama saja.

Radio, ketika akan mati, tentu saja adalah kematian konsep lamanya. Jika menyangkut brand, maka yang mati adalah brandnya. Tentu tak akan berdampak sistemik, “kalau satu brand radio mati semua stasiun radio akan mati”. Ya itu-itu saja. Namun tetap saja prinsip radio sebagai salah satu medium “penyambung lidah rakyat” seperti media massa lain dan juga medium hiburan akan tetap sama. Prinsip inilah yang akan tetap bertahan, meskipun nantinya akan ada sistem radio digital, seperti yang sudah diterapkan di Finlandia ataupun ada perubahan-perubahan lainnya.

Spotify dan Joox tidak sepenuhnya bisa menggantikan hal-hal yang ada di radio. Meskipun algoritma mereka bisa mendekatkan diri dengan pendengarnya dan membaca kebiasaan penggunanya, namun tentu saja ada feels yang berbeda dengan tangan manusia. Tangan manusia, tentu saja ada di radio. Sebosan-bosannya kita dengan playlist di radio, tentu saja akan beda dengan bosannya kita dengan playlist di keduanya.

Semua, kembali lagi pada selera. Mau dengar playlist ciamik ala Spotify atau mau dengar playlist ala radio, terserah. Tak semua wajib dengar radio, tapi harus paham bahwa radio adalah medium. Radio bukanlah hanya soal industri dan perangkat. Radio jauh lebih luas dari keduanya. Digital pun juga jauh lebih luas dari sekedar koneksi internet, Youtube dan iPhone kan?

Baca juga perspektif lain dari “gimmick” ini.

#RadioGueMati – Terserah Dengar Radio Apa, Jaga Frekuensi Radio Kewajiban Semua WNI

Iklan
Standar

6 respons untuk ‘#RadioGueGaPernahMati, Pledoi Soal-Soal Radio

  1. Misael berkata:

    DAB itu juga based on gelombang VHF yg kita kenal, cuma mereka gak pakai modulasi lagi. Jadi tek gitu aja di frekuensi 200 MHz (UK, kalo di kt mungkin pakai frekuensi di bawah FM, gatau RRI skg di mana)

    Banyak yg gabisa bedain DAB sama radio internet do. Di norwegia, mereka pindah ke DAB, yang tetap gratis dan spt upgraded version of FM

    Tapi data yg dimakan streaming radio di indo hebat jg cuma kecil, jg bisa ditransmisikan dgn hanya 7-10 KB/s (maksimal 80 kbps), ya jadi emg serasa denger DAB

    Suka

      • Misael berkata:

        Nahiya padahal target tahun lalu ya?

        Btw woman radio itu gara-gara dia paling telat pindah ke gelombang FM. WR hampir terhapus dari sejarah radio jkt seandainya pemerintah mau memberlakukan 0.8 MHz dan semua frekuensi FM ganjil seperti di Filipina.

        Seharusnya adanya Elshinta 89.9 bukan 90.0

        Suka

        • Iya.

          Ngga tau juga tuh TV digital bakalan dimigrasi dan bener-bener active 100% kapan. Namanya juga Indonesia, ups ~

          Kasihan juga si Woman Radio itu. Jadi stasiun radio yang mungkin timbul tenggelam ditengah persaingan. Dulu udah bisa kerjasama sama papa Hate, tapi ngga tau kenapa putus ditengah jalan..

          Suka

  2. saya termasuk yang jarang denger radio juga, tapi saya rasa jauh banget bedanya radio dibandingkan spotify dan sejenisnya, yang pasti kita gak bakalan bisa berinteraksi kecuali kalau memang cuma mau denger playlist lagu doang

    Suka

    • Betul. Kelebihan radio adalah itu.

      Sebuah hal yang belum bisa diganti di dunia digital hari ini.

      Interaksi dengan medium Instagram live ataupun sejenisnya belum tentu sama dengan radio.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s